Hukum Prancis sangat sekuler dan kepercayaan agama tidak menerima perlindungan khusus.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan berapi-api membela kematian pria 47 tahun itu.
Dia membelanya atas kebebasan berekspresi.
Hal ini termasuk hak kartunis untuk mencemooh tokoh agama.
Negara tetangga Belgia, seperti Prancis pada beberapa taun terakhir telah menerima sejumlah serangan dan Molenbeek, yang memiliki populasi Muslim yang besar.
Erdogan Minta Macron Periksa Kesehatan Mental, Prancis: Komentar Presiden Turki Tak Bisa Diterima
Pihak Prancis tak terima dengan pernyataan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk melakukan cek kesehatan mental.
Ketegangan ini merupakan buntut panjang dari usaha Macron untuk memerangi 'Islam radikal' di negaranya, seperti diberitakan BBC, Minggu (25/10/2020).
Hal itu bermula dari tewasnya seorang guru yang dibunuh karena mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.
Memang, penggambaran Nabi Muhammad merupakan pelanggaran serius.
Pasalnya Islam melarang untuk menggambarkan Nabi Muhammad dan Alloh.
Kendati demikian, Presiden Emmanuel Macron tegas pada pendiriannya.
Prancis "tidak akan melepaskan kartun kami", katanya awal pekan ini.
Hal itu tak lepas dari posisi Prancis sebagai neara sekuler, yang sekaligus sebagai pusat identitas nasional Prancis.
Menurut mereka, membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, kata negara, merusak persatuan negara.
Reaksi Erdogan
Menanggapi masalah masalah ini, Erdogan memberikan reaksi keras.
Apa masalah individu bernama Macron dengan Islam dan dengan Muslim?" kata Erdogan dalam pidatonya.
"Macron membutuhkan perawatan pada tingkat mental," tambah Erdogan.
Ia pun mempertanyakan sikap Presiden Prancis.