"Yakni kelompok mahasiswa dan kelompok buruh. Dari data sementara demikian," tambahnya.
Wiku meminta para demonstran tetap menerapkan protokol kesehatan selama menyampaikan aspirasinya.
Ia mengatakan penerapan protokol kesehatan tak menghilangkan esensi demontrasi sehingga tetap harus dilakukan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.
"Bagi masyarakat yang memilih berdemonstrasi, ingat bahwa demonstrasi tidak akan kehilangan esensinya jika kita tetap berlaku damai dan patuh pada protokol kesehatan selama acara berlangsung," kata Wiku.
"Jaga jarak antara demonstran, selalu memakai masker dan mencuci tangan atau membawa hand sanitizer kemana pun Anda berada adalah salah satu andil Anda dalam memerdekakan bangsa ini dari pandemi Covid 19," kata Wiku.
Baca: Azis Syamsuddin Sebut Ada 18 Anggota DPR Positif Covid-19 Saat Sidang Paripurna RUU Cipta Kerja
Ia pun mengingatkan para demonstran untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengan keluarga saat pulang.
Wiku mengatakan jangan sampai para demonstran pulang membawa virus dan menularkan kepada keluarganya di rumah.
"Pandemi ini mengharuskan kita berpikir secara kritis. Setiap apa yang kita lakukan harus dipikirkan manfaat dan mudaratnya, termasuk kerumunan massa yang besar," ucap Wiku.
"Jangan karena berkerumun kita membawa pulang penyakit dan ancaman kematian pada kerabat dan keluarga kita," ucap dia.
Demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja terus terjadi. Sebelumnya mahasiswa bersama buruh berdemonstrasi pada 6-8 Oktober.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ratusan Demonstran Reaktif, Kasus Covid-19 Beberapa Pekan ke Depan Meningkat", dan "Ingatkan Demonstran, Satgas Covid-19: Jangan karena Berkerumun, Kita Bawa Pulang Penyakit"