Konflik Armenia - Azerbaijan di Nagorno Karabakh, Amerika Serikat Minta Hentikan Permusuhan

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden AS Donald Trump berhenti dan menjawab pertanyaan dari wartawan dalam perjalanan ke Marine One di South Lawn Gedung Putih, Selasa (22/9/2020). Trump membantah seluruh tudingan pelecehan seksual Amy Dorris yang dilakukan Trump tahun 1997 silam. (DREW ANGERER/GETTY IMAGES/AFP)

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Di tengah meletusnya konflik Armenia dan Azerbaijan di Nagorno Karabakh, Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan agar kedua negara ini segera menghentikan eskalasi militer.

Pada Minggu, (27/9/2020), Presiden Donald Trump menyatakan sedang memantau secara serius kondisi yang terjadi di Pegunungan Kaukasia tersebut.

"Kami punya banyak hubungan baik di wilayah tersebut. Kita lihat apakah bisa kita hentikan (konflik militer) ini," kata Trump.

Sementara itu Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengutuk pertempuran keduanya.

Melalui sebuah pernyataan, Deplu AS menyerukan agar segala aksi, retorika, dan sikap-sikap permusuhan perlu dihentikan.

Baca: Respons Internasional Atas Konflik Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh

FOTO: Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan memberikan pidato parlemen di Yerevan pada 27 September 2020. (Handout / press service of Armenia's government / AFP)

Baca: Pertahankan Wilayah Nagorno-Karabakh, Presiden Azerbaijan Iham Aliyev: Tujuan Kami Benar!

Menurut mereka, ini dapat semakin memperburuk masalah.

Senada dengan Trump, calon presiden dari Partai Demokrat AS dan mantan Wakil Presiden Joe Biden mengatakan bahwa permusuhan hanya akan memperparah eskalasi militer.

Melalui sebuah pernyataan, Biden mendesak pemerintahan Trump untuk mendorong lebih banyak pengamat di sepanjang garis gencatan senjata.

Biden menyinggung Rusia untuk "berhenti mengirimkan senjata kepada kedua belah pihak."

Respons Internasional 

Konflik yang terjadi antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh mendapat respons dari sejumlah negara di dunia.

Komentar internasional ini datang dari berbagai pihak yang sebagian besar menginginkan agar terjadinya perdamaian antar-kedua negara yang merupakan musuh bebuyutan di Pegunungan Kaukus ini.

Respons pertama datang dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Ia mangatakan "sangat prihatin" atas konflik kedua negara tersebut.

Gutteres meminta meminta kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertempuran.

Baca: Pertahankan Wilayah Nagorno-Karabakh, Presiden Azerbaijan Iham Aliyev: Tujuan Kami Benar!

FOTO: Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres ketika memberikan pidato dalam konferensi pers pada KTT Uni Afrika ke-33, 8 Februari 2020 di Addis Ababa. (AFP/MICHAEL TEWELDE)


Baca: Seruan PM Nikol Pashinyan untuk Warga Armenia: Bersiaplah Mempertahankan Tanah Air Kita!

Kedua datang dari Prancis yang mempunyai komunitas di Armenia.

Prancis mendorong agar kedua negara ini segera melakukan genjatan senjata.

Lebih jauh lagi, Prancis meminta agar permasalahan Nagorno-Karabakh diselesaikan dengan cara dialog.

Kemudian Iran yang berbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia, menawarkan diri untuk menjadi penengah dalam konflik.

Lalu ada Amerika Serikat yang sedang berusaha mencari jalan perdamaian dengan menghentikan kekerasan.

Baca: Update Konflik Armenia - Azerbaijan di Nagorno-Karabakh: 23 Tentara Tewas, 100 Lebih Warga Terluka

Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengenakan masker, mengunjungi laboratorium pengembangan industri di pabrik vaksin pembuat obat Sanofi Pasteur di Marcy-l'Etoile, dekat Lyon, pada 16 Juni 2020. (GONZALO FUENTES / POOL / AFP)


Baca: Statistik: Industri China Tumbuh 19,1 %, Laba Rp 1,3 Triliun

Halaman
12


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer