Pada Minggu, (27/9/2020), Presiden Donald Trump menyatakan sedang memantau secara serius kondisi yang terjadi di Pegunungan Kaukasia tersebut.
"Kami punya banyak hubungan baik di wilayah tersebut. Kita lihat apakah bisa kita hentikan (konflik militer) ini," kata Trump.
Sementara itu Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengutuk pertempuran keduanya.
Melalui sebuah pernyataan, Deplu AS menyerukan agar segala aksi, retorika, dan sikap-sikap permusuhan perlu dihentikan.
Baca: Respons Internasional Atas Konflik Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh
Baca: Pertahankan Wilayah Nagorno-Karabakh, Presiden Azerbaijan Iham Aliyev: Tujuan Kami Benar!
Menurut mereka, ini dapat semakin memperburuk masalah.
Senada dengan Trump, calon presiden dari Partai Demokrat AS dan mantan Wakil Presiden Joe Biden mengatakan bahwa permusuhan hanya akan memperparah eskalasi militer.
Melalui sebuah pernyataan, Biden mendesak pemerintahan Trump untuk mendorong lebih banyak pengamat di sepanjang garis gencatan senjata.
Biden menyinggung Rusia untuk "berhenti mengirimkan senjata kepada kedua belah pihak."
Konflik yang terjadi antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh mendapat respons dari sejumlah negara di dunia.
Komentar internasional ini datang dari berbagai pihak yang sebagian besar menginginkan agar terjadinya perdamaian antar-kedua negara yang merupakan musuh bebuyutan di Pegunungan Kaukus ini.
Respons pertama datang dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Ia mangatakan "sangat prihatin" atas konflik kedua negara tersebut.
Gutteres meminta meminta kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertempuran.
Baca: Pertahankan Wilayah Nagorno-Karabakh, Presiden Azerbaijan Iham Aliyev: Tujuan Kami Benar!
Baca: Seruan PM Nikol Pashinyan untuk Warga Armenia: Bersiaplah Mempertahankan Tanah Air Kita!
Kedua datang dari Prancis yang mempunyai komunitas di Armenia.
Prancis mendorong agar kedua negara ini segera melakukan genjatan senjata.
Lebih jauh lagi, Prancis meminta agar permasalahan Nagorno-Karabakh diselesaikan dengan cara dialog.
Kemudian Iran yang berbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia, menawarkan diri untuk menjadi penengah dalam konflik.
Lalu ada Amerika Serikat yang sedang berusaha mencari jalan perdamaian dengan menghentikan kekerasan.
Baca: Update Konflik Armenia - Azerbaijan di Nagorno-Karabakh: 23 Tentara Tewas, 100 Lebih Warga Terluka
Baca: Statistik: Industri China Tumbuh 19,1 %, Laba Rp 1,3 Triliun