Trump juga menyebut China harus bertanggung jawab karena telah "melepaskan virus" tersebut.
Oleh karena itu, kata Trump, PBB harus mengambil tindakan terhadap China.
Dikutip dari Xinhua, (23/9/2020), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, membalas Trump dengan mengatakan tuduhan tersebut tidak berdasar.
Menurut Wang, tuduhan Trump ini dibuat untuk tujuan politik.
"Fakta-fakta sekali lagi telah membuktikan bahwa praktik unilateralisme dan perundungan adalah ancaman paling serius yang dihadapi dunia," kata Wang pada sidang Majelis Umum PBB, Selasa, (22/9/2020).
Baca: Trump Ejek Lagi Biden karena Pakai Masker: Apakah Dia Ingin Menutupi Operasi Plastik di Wajah Tuanya
"Kebohongan tidak bisa menggantikan kebenaran. Upaya China dalam merespons Covid-19 terdokumentasi dengan jelas, dan orang-orang akan membuat penilaian yang adil," kata Wang, mengutip laporan China mengenai situasi Covid-19 yang tepat waktu, identifikasi patogen tersebut, usahanya berbagi urutan genom.
Wang mengatakan bahwa setelah mengonfirmasi adanya penularan virus corona manusia ke manusia, China dengan cepat menutup lalu lintas keluar dari Wuhan.
China juga memberlakukan pembatasan paling ketat pada lalu lintas keluar dari wilayah lainnya di Provinsi Hubei.
Jubir itu mengatakan respons China terhadap Covid-19 sudah transparan dan terbuka.
Tuduhan terhadap China, kata Wang, digunakan untuk mengalihkan kesalahan.
Baca: Kematian akibat Covid-19 di AS Tembus 200.000 Jiwa, Donald Trump: Memalukan
Wang menyebut AS harus menghentikan manipulasi politiknya dan mengakhiri politisasi terhadap virus, daripada memfitnah negara lain.
Trump mengatakan kematian akibat Covid-19 yang mencapai 200.000 jiwa di AS sebagai hal yang "memalukan".
Trump mengatakannya ketika menjawab pertanyaan dari wartawan mengenai pencapaian AS dalam melawan pandemi Covid-19.
Ketika berangkat ke acara kampanye pemilihan di Pittsburg, Trump berkata, "Saya pikir jika kita tidak menanganinya dengan tepat dan benar, kalian akan melihat 2,5 juta kematian."
Dilansir dari The Guardian, (23/9/2020), AS saat ini masih menjadi negara dengan angka kematian akibat Covid-19 terbanyak di dunia.
Baca: Donald Trump Kecam China hingga Minta Tanggung Jawab karena Covid-19 Menewaskan 200 Ribu Warganya
Di belakang AS ada Brazil yang jumlah kematiannya berselisih 60.000 dari AS.
Jumlah kematian di AS pada Selasa, (22/9/2020), mencapai 200.768.
Pemerintah AS dikritik karena tidak bertindak lebih cepat dan tegas dalam menghentikan penyebaran virus corona.