Republik Indonesia kembali merayakan Haornas tepat hari ini, Rabu (9/9/2020).
Hari Olahraga Nasional merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah akan pentingnya pendidikan olahraga.
Penetapan Hari Olahraga Nasional dilatarbelakangi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Surakarta, Jawa Tengah pada 9-12 September 1948.
PON pertama diselenggarakan di Stadion Sriwedari, Surakarta Jawa Tengah pada 9-12 September 1948.
Baca: Hari Olahraga Nasional (Haornas)
Baca: Mengenal Abdul Gafur, Menpora Era Soeharto yang Mencetuskan Haornas di Indonesia
Di mana pada akhirnya tanggal pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yaitu 9 September ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 tahun 1985.
Pesta Olahraga ini dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno dan ditutup oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).
PON pertama diikuti oleh peserta yang berasal dari tingkat karesidenan atau kota.
Ada 13 karesidenan atau kota yang berpartisipasi, yaitu Yogyakarta, Madiun, Magelang, Semarang, Bandung, Malang, Surakarta, Surabaya, Pati, Kedu, Banyuwangi dan Jakarta.
Surakarta menjadi juara umum PON Pertama dengan meraih 36 medali dari total 108 medali yang terdiri dari emas, perak dan perunggu.
PON pertama ini juga diikuti sekitar 600 atlet yang berkompetisi dalam beberapa cabang olahraga yaitu Bulu Tangkis, Tenis, Panahan, Renang, Basket, Atletik, Lempar Cakram dan Sepak Bola.
Alasan memilih Kota Surakarta sebagai tempat penyelenggaraan adalah karena sarana olahraga di kota ini dianggap telah memenuhi persyaratan pokok.
Stadion Sriwedari yang dilengkapi lampu penerangan serta kolam renang dan berbagai fasilitas olahraga lain pada zamannya adalah termasuk yang terbaik di Indonesia.
Baca: Libatkan 6 Ribu Karateka dalam Peringatan Haornas ke-36, Kalsel Pecahkan Rekor MURI
Baca: Abdul Gafur
Adapun maksud dan tujuan penyelenggaraan PON pertama ini adalah untuk menunjukkan pada dunia luar bahwa Bangsa Indonesia dalam kondisi yang baru saja mengecap kemerdekaan sanggup menggalang persatuan dan kesatuan serta tetap bersatu kokoh dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Tak hanya itu, penyelanggaraan PON pertama ini tidak haya terkait pada prestasi olahraga dalam negeri saja, namun juga berhubungan dengan gengsi serta harkat dan martabat bangsa.
Berawal dari ditolaknya Indonesia oleh Inggris yang menjadi tuan rumah Olimpiade ke-14.
Indonesia yang kala itu baru saja merdeka dianggap belum layak mengikuti olimpiade karena belum memiliki prestasi apapun di bidang olahraga.
Namun, alasan yang sebenarnya adalah karena saat itu Inggris merupakan sekutu Belanda yang masih belum menerima kemerdekaan Indonesia.
Indonesia yang merasa tersinggung dengan penolakan Inggris kemudian menggelar konferensi darurat di Solo tahun 1948 untuk mengadakan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Mantan Menpora era Soeharto, Abdul Gafur menjadi salah satu tokoh yang mencetuskan Haornas.