Khaled Alnobani, Penyintas Penembakan Masjid di Selandia Baru Ungkap Dampak Penyerangan

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FOTO: Khaled Alnobani

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Khaled Alnobani, seorang penyintas yang selamat dalam insiden penembakan masjid di Selandia Baru mengungkapkan rasa duka dan dampak yang ia rasakan.

Di mimbar pengadilan tinggi Christchurch, pria berusia 36 tahun itu nampak bersedih sekaligus marah.

"Saya melihat orang yang saya kenal ditembak, saya mencoba membantu orang-orang, tapi saya (juga) harus lari," kata pria asal Yordania itu.

Saat serangan tiba, Alnobani berada di baris depan mengikut ibadah salat Jumat.

Ketika mendengar tembakan, ia melihat orang-orang terjatuh.

"Saya merasa tak enak ketika berlari ke luar, dan saya mendengar tembakan masih berlangsung di dalam masjid," katanya.

Baca: Imam Masjid Al Noor, Gamal Fouda di Hadapan Terdakwa Brenton Tarrant: Kau itu Sesat dan Salah Arah

FOTO: Khaled Alnobani (bertopi) terlihat datang memenuhi panggilan Pengadilan Tinggi Christchurch, Senin (24/8/2020) untuk menyampaikan dampak yang ia rasakan atas serangan penembakan masjid di Selandia Baru yang terjadi pada Jumat 15 Maret 2019 (Sanka VIDANAGAMA / AFP)

Namun, ia masih membantu orang-orang yang berhamburan ke luar masjid.

"Saya sakit punggung setelah (kejadian) itu karena mencoba mengangkat orang membantu mereka (lari)," ungkapnya.

Ingatan

Kepada hakim, penyintas ini mengaku sulit kembali bekerja seperti biasa lantaran masih berjuang dengan kebiasaan baru hidupnya.

"Perilaku saya berubah karena kehilangan beberapa teman dan terkadang saya merasa (terancam) akan disakiti," katanya.

Alnobani menggambarkan dirinya tidak enak karena saat itu tidak dapat membantu lebih banyak orang.

"Apa yang terjadi sangat tidak terduga dan saya masih merasa terkejut atas apa yang saya lihat," ungkapnya.

Kesedihan

Penyintas yang datang memakai sorban di lehernya ini mengaku masih begitu sedih mengingat kejadian tersebut.

"Setiap kali ada orang yang ngobrol sama saya tentang insiden itu, saya menjadi kesal dan marah. Saya merasakan kondisi tidak dapat mengendalikan atau menahan perasaan saya," terangnya.

Baca: Anaknya Tewas dalam Penembakkan Masjid di Selandia Baru, Maysoon Salama: Hatiku Hancur Jutaan Kali

Khaled Alnobani di depan pengadilan dan juga di hadapan terdakwa Brenton Tarrant (New Zealand Herald / Pool / Christchurch High Court)

Penyintas ini juga mengaku merasakan frustasi dan depresi dalam hidupnya setelah kejadian itu.

"Saya depresi, saya frustasi karena ada orang yang merenggut kebahagiaan saya," katanya.

"Saya frustasi karena kehilangan teman-teman saya," terangnya.

Pernyataan dampak korban telah ia selesaikan, dan berbalik ke Brenton Tarrant yang turut dihadirkan dalam persidangan.

Halaman
123


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Archieva Prisyta

Berita Populer