Rengasdengklok hingga Alasan Pemilihan 17 Agustus, Berikut Peristiwa Penting Jelang Proklamasi

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto proklamasi yang diambil Frans Mendur mengabadikan momen pembacaan naskah proklamasi oleh Sukarno, didampingi Mohammad Hatta, di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Akhirnya pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu.

Para tokoh yang mengikuti perkembangan Perang Dunia II memiliki ide untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu keputusan Jepang.

Perbedaan pendapat terjadi antara golongan tua (PPKI) dengan golongan muda yang terwakili dalam beberapa perkumpulan.

Perkumpulan golongan muda tersebut, di antaranya:

  • Kelompok Asrama Menteng 31, dipelopori Chaerul Saleh dan Sukarni.
  • Kelompok Asrama Indonesia Merdeka, dipelopori Soebarjo. Kelompok Asrama Mahasiswa Kedokteran, Sutan Sjahrir.

Golongan muda mendesak agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan.

Sementara golongan tua lebih menghindari pertumpahan darah, mengingat pasukan Jepang masih banyak di Indonesia. Sehingga menunggu keputusan Jepang.

Penculikan Rengasdengklok

Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda "diculik" atau dibawa ke Rengasdengklok.

Aksi penculikan itu sebenarnya membuat kecewa Soekarno.

Soekarno marah dan kecewa, namun melihat keadaan dan situasi yang panas, Soekarno tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kehendak para pemuda.

Saat itu Fatmawati, istri Soekarno dan anaknya Guntur juga dibawa untuk keamanan diri mereka.

Rengasdengklok merupakan kota kecil dekat Karawang.

Bung Hatta (berdiri) ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam) Jumat siang kemarin. Tampak dari kiri kekanan: GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen (Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok. (Kompas/JB Suratno) ((Kompas/JB Suratno))

Posisi ini cukup strategis untuk melihat atau mendeteksi pergerakan Jepang, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah bandung dan Jawa tengah.

Meski ditekan oleh golongan muda dengan berbagai cara, Soekarno tetap berpegang teguh untuk menjalankan rencana Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Bagi Soekarno angka 17 adalah angka yang suci.

Saat itu Agustus merupakan bulan suci Ramadhan.

Selain itu 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat yang dipercaya sebagai hari suci dan berbahagia.

Sementara di Jakarta, Achmad Soebardjo dari golongan tua dan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta.

Laksamana Muda Maeda Tadashi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara kekaisaran Jepang bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya.

Baca: Spesial 17 Agustus: Kisah Pilu Pahlawan Pierre Tendean yang Tak Sempat Menikahi Sang Pujaan Hati

Baca: Menjelang 17 Agustus 2020, Berikut Ini Cara Benar Menulis Benar dan Salah untuk Ucapan HUT ke-75 RI

Berdasarkan kesepakatan dari semua pihak, khususnya golongan muda, Soekarno dan Hatta dijemput untuk kembali ke Jakarta dan menjamin bahwa bahwa Proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945. 

Halaman
123


Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri

Berita Populer