Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon merekomendasikan pemerintah untuk segera menyatakan keadaan darurat di Beirut.
Keadaan darurat sedianya diberlakukan selama dua minggi, di mana tanggung jawab keamanan akan diserahkan kepada otoritas militer.
Dalam sebuah siaran langsung, dewan mengatakan Presiden Michel Aoun telah memutuskan untuk mengeluarkan 100 miliar pound Lebanon (66 juta USD) dalam alokasi darurat dari anggaran 2020.
Baca: Ledakan Dahsyat Terjadi di Beirut Lebanon, 70 Orang Tewas dan Lebih Dari 3.500 Orang Luka-luka
Presiden juga merekomendasikan penugasan sebuah komite khusus untuk menyelidiki penyebab ledakan.
Dalam lima hari kedepan, temuan tim komite ini akan dijadikan acuan untuk memberikan hukuman maksimum pada siapapun yang bertanggung jawab.
Ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, Selasa (4/5/2020) turut menjadi perhatian dunia.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Luar Negeri Malaysia, Hishammuddin Hussein menyatakan kesedihan negaranya atas ledakan di Beirut.
Bahkan dirinya menawarkan bantuan dengan cara apa pun yang mereka bisa.
"Malaysia berdiri bersama dalam kesedihan ketika pikiran dan doa kami menemani orang-orang kuat Lebanon," katanya dalam sebuah postingan di Twitter.
"Kami siap mendukung apa pun yang kami bisa."
Baca: Beirut
Bantuan tak hanya datang dari Malaysia.
Siprus mengatakan siap menawarkan bantuan medis setelah terjadi ledakan.
Menteri Luar Negeri Siprus Nikos Christodoulides mengatakan kepada stasiun televisi negara CyBC, kedutaan Siprus di Beirut, yang ditutup pada saat ledakan itu, rusak parah.
Saking kuatnya, ledakan itu terdenger di Siprus.
Padahal jarak kedua negara lebih dari 200 km.
Sementara Perdana Menteri Narendra Modi juga menyampaikan kesedihannya.
Hal itu disampaikan oleh Kantor Perdana Menteri, Rabu (5/8/2020).
"Pikiran dan doa kami bersama keluarga yang hilang dan yang terluka," kantor perdana menteri menambahkan.