Kendala Belajar dari Rumah, 4 Pelajar di Lampung Nekat Masuk Sarang Ular demi Wifi Gratis

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FOTO: Terlihat Ali (15), Firnando (15), Rezi (12) dan Faiz (12) nekat masuk sarang ular demi bisa mengikuti pembelajaran dari rumah dengan menumpang wifi gratis milik tetangga.

Meski sudah ada alternatif lain pengganti kuota, namun Ali dan temannya masih mendapati kendala.

Terutama saat hujan turun, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran pada hari itu.

"Kadang gak bisa absen, kadang juga ngirimnya telat jadi gak diterima lagi sama gurunya," timpal Firnando.

Baca: Kabar Gembira, Kominfo Anggarkan Rp 1,9 Triliun per Bulan untuk Subsidi Kuota Internet

Empat pelajar sekolah di Jalan Nangka, Gang Stial terpaksa nebeng wifi milik tetangga untuk mengikuti pelajaran daring karena orangtua tak mampu beli kuota internet, Kamis (23/7/2020). (Tribunlampung.co.id/Deni Saputra)

Siswa kelas 9 SMP Negeri 19 Bandar Lampung ini mengaku pasrah saat hujan turun di pagi hari.

Karena tak ada pilihan lain selain menggantungkan akses internet dari wifi milik tetangga.

"Kalau kuota ada enak, masih bisa kirim tugas, ikut Zoom."

"Ya kalau lagi gak ada, terpaksa absennya dibuat alpa (tidak hadir)," terangnya.

Tak ubahnya Ali, Firnando pun hanya mendapatkan jatah Kuota Internet dari orangtuanya 1,5 GB perminggu.

Jatah tersebut, diakui Firnando, jauh dari kata cukup, karena penggunaan perhari bisa lebih 500 MB.

Kondisi keuangan ayah Firnando yang hanya bekerja sebagai juru parkir, sangat tidak memungkinkan untuk memberi kuota lebih.

Orangtua Khawatir

Orangtua Rezi, Eni Murya Sari (38) mengaku prihatin sekaligus khawatir dengan kondisi anaknya.

Dirinya was-was saat anaknya masuk ke dalam kebun pisang demi menyambung internet.

Karena keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan, Erni hanya bisa memantau dari kejauhan.

"Sebenarnya was-was karena di sini sarang ular, tapi mau gimana lagi, mau beli kuota kita gak ada uang," kata Eni.

Karena itu, setiap anaknya berburu wifi di kebun belakang rumah, Eni memastikan tidak terjadi apa-apa terhadap anaknya.

"Sebentar, sebentar pasti saya panggil. Namanya ibu sama anak pasti cemas, tapi mereka ya biasa saja, gak takut gitu," katanya.

Menurut Eni, sistem belajar daring sangat memberatkan, karena harus menambah pengeluaran selain untuk membeli kebutuhan pokok.

Baca: Kemendikbud Beri Keringanan Biaya Kuliah, Ini Syarat Agar Dapat Bantuan UKT (SPP) Selama 1 Semester

Ia merinci, untuk anaknya yang duduk di bangku Sekolah Dasar ini, bisa menghabiskan uang Rp 200 ribu sebulan, hanya untuk beli Kuota Internet.

"Mending belajar di sekolah saja, dengan uang segitu sudah bisa beli kebutuhan sehari-hari buat sebulan," keluh Eni.

Pandemi Covid-19 memaksa siswa sekolah mengikuti pelajaran dari rumah.

Sistem belajar dalam jaringan atau belajar daring tentunya membutuhkan biaya ekstra untuk beli Kuota Internet.

Namun, tak semua anak sekolah bernasib baik, memiliki orangtua yang mampu membelikan Kuota Internet.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Tribun Lampung)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer