Paus besar tersebut diketahui berjenis pygmy blue atau paus biru kerdil.
Saat ditemukan, paus biru tersebut sudah dalam keadaan mati dan perutnya mengembung.
Bangkai paus tersebut memiliki panjang lebih kurang 29 meter dengan berat lebih dari 100 ton.
Mulanya, paus tersebut pertama kali ditemukan oleh pencari kerang pada pukul 17.00 WITA.
Kemudian pada pada Selasa (22/7/2020), posisi bangkai paus telah bergeser karena diterseret arus laut.
Ratusan warga pun sontak mendatangi lokasi paus terdampar tersebut untuk melihat bangkai mamalia yang sudah mati itu.
Menurut Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKPPN) Kupang, Ikram Sangadji, paus tersebut diduga mati karena sakit.
Baca: Viral, Peluk dan Kerumuni Paus Orca, Warga Inobonto Heboh Mengira Lumba-Lumba Terdampar
Baca: 3 Penumpang Kapal Speedboat Terluka setelah Menabrak Seekor Paus Bungkuk di Teluk Auke, Alaska
Baca: Lebih dari 50 Ekor Paus Pilot Mati Terdampar di Pantai Islandia, Apa Penyebabnya?
Ia mengatakan, paus biru yang terdampar dan mati itu merupakan paus langka dan dilindungi oleh undang-undang sehingga tak boleh ada yang memotong untuk mengambil dagingnya.
Dari pengamatan sementara, kulit bagian luar dari bangkai paus tersebut sudah terkelupas di beberapa sisi.
Lalu, tubuh paus tersebut tampak sudah menggembung.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, mengatakan, posisi bangkai paus sudah bergeser ke Selat Semau, Kabupaten Kupang.
"Saat ini teman-teman dari BBKSDA NTT, BKKPN Kupang, dan instansi terkait sudah persiapan evakuasi," kata Zaydi.
Saat pertama kali ditemukan, bangkai paus biru yang memiliki berat lebih dari 1 ton tersebut menampakkan kulit yang sudah mulai terkelupas.
Perut paus pygmy blue itu pun sudah membesar dan mengembung.
Sontak, ratusan warga yang penasaran pun langsung mendatangi lokasi pantai tempat paus tersebut terdampar.
Mereka pun mulai mengabadikan momen paus tersebut hingga membuat jalanan di sekitar pantai macet.
Bangkai paus biru yang semula ditemukan di pesisir Pantai Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat terseret arus.