Sapardi merupakan anak dari pasangan Sadyoko dan Sapariah.
Ayahhnya, Sadyoko, merupakan abdi dalem di Keraton Kasunanan yang mengikuti jejak kakenya.
Penamaan Sapardi diambil dari 'bulan Sapar' berdasarkan kalender Jawa.
Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.
Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah.
Saat masih di sekolah menengah, karya-karyanya sudah sering dimuat di majalah.
Kesukaannya menulis semakin berkembang ketika dia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.
Pria yang dijuluki sajak-sajak SDD ini tidak hanya menulis puisi, namun juga cerita pendek.
Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Sapardi juga sedikit menguasai permainan wayang, karena kakeknya selain menjadi abdi dalem juga bekerja sebagai dalang.
Sapardi Djoko Damono menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Jenazah Sastrawan Sapardi Djoko Damono Dimakamkan Minggu Sore di Bogor