Rusia Dituding Tawarkan Hadiah pada Taliban untuk Membunuh Pasukan AS di Afghanistan

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Tentara AS - Rusia disebut menawarkan hadiah kepada pejuang Taliban untuk membunuh pasukan AS dan Inggris yang ada di Afghanistan

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Petugas intelijen di Direktorat Intelijen Utama Rusia atau GRU baru-baru disebut telah menawarkan uang kepada militan Taliban di Afghanistan sebagai hadiah jika mereka bisa membunuh pasukan Amerika Serikat atau Inggris yang ada di sana.

Hal tersebut diungkapkan oleh seorang pejabat intelijen Eropa kepada CNN.

Pejabat tersebut tidak mengatakan dengan jelas mengenai motivasi Rusia melakukan hal tersebut, namun mengatakan insentif, dalam penilaian mereka, menyebabkan korban koalisi.

Pejabat tersebut juga tidak merinci tentang tanggal kejadian, jumlah atau kebangsaan mereka, atau apakah ini korban jiwa atau cedera.

"Pendekatan tak berperasaan oleh GRU ini mengejutkan dan tercela. Motivasi mereka membingungkan," kata pejabat itu seperti dilaporkan oleh CNN (28/6/2020).

Kisah ini pertama kali dilaporkan oleh New York Times.

Intelijen AS pada bulan lalu menyimpulkan bahwa intelijen militer Rusia telah menawarkan hadiah setelah beberapa serangan berhasil dilakukan.

Baca: India Desak Rusia Percepat Pengiriman Rudal, Peneliti: Ingin Samakan Kekuatan Militer dengan China

Baca: 35 Tentara China Disebutkan Tewas Lawan India, Intelijen AS: China Enggan Mengakuinya, karena Malu

Unit ini juga diyakini terkait dengan percobaan pembunuhan di Eropa, sebagaimana dilaporkan New York Times, Jumat (26/6/2020).

Mengutip penjelasan dari para pejabat tentang masalah ini, Times melaporkan bahwa Presiden Donald Trump diberi pengarahan tentang temuan intelijen dan bahwa Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengadakan pertemuan tentang hal itu pada akhir Maret lalu.

Sekretaris pers Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (27/6/2020) kemarin,  bahwa presiden dan wakil presiden tidak diberikan pengarahan tentang dugaan yang dilakukan inteljien Rusia.

McEnany tidak secara spesifik menjelaskan hal tersebut, namun hanya membahas ketidakakuratan kisah yang dipublikasikan New York Times yang mengatakan bahwa Trump telah diberikan pengarahan.

Namun, McEnany tidak menyangkal validitas intelijen AS yang melaporkan bahwa unit intelijen Rusia menawarkan hadiah kepada militan yang terkait dengan Taliban untuk melakukan serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Direktur Intelijen Nasional John Ratcliffe mengatakan dalam pernyataannya sendiri Sabtu malam bahwa ia telah "mengkonfirmasi bahwa baik Presiden maupun Wakil Presiden tidak pernah diberi pengarahan tentang intelijen yang dituduhkan oleh New York Times dalam laporannya kemarin."

 "Pernyataan Gedung Putih yang membahas masalah ini sebelumnya hari ini, yang membantah pengarahan seperti itu terjadi, adalah akurat. Pelaporan New York Times, dan semua laporan berita berikutnya tentang dugaan pengarahan tersebut tidak akurat." tambah dia.

CNN telah menghubungi Kantor Direktur Intelijen Nasional untuk mendapatkan komentar tambahan.

CNN juga telah menghubungi Departemen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, dan CIA, dan tidak menerima komentar.

Baca: Misi Pengawasan Laut China Selatan, AS Kirimkan Pesawat Militer untuk Lacak Kapal Selam China

Baca: Jet Tempur AS F-22 Mencegat Pesawat Patroli Rusia IL-38 di Alaska

Menurut Times, pemerintahan Trump mengadakan briefing yang diperluas tentang penilaian intelijen minggu ini dan berbagi informasi tentang hal itu dengan pemerintah Inggris, yang pasukannya juga diyakini telah menjadi sasaran.

Surat kabar itu melaporkan bahwa para pejabat memikirkan kemungkinan tanggapan, termasuk mulai dengan keluhan diplomatik ke Moskow, permintaan untuk berhenti, dan sanksi.

Tetapi Gedung Putih belum memberikan tindakan apapun.

Rusia dan Taliban menolak tuduhan tersebut

Halaman
12


Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer