Pihak terkait pun langsung mengambil ribuan sampel makanan laut impor, domestik, daging dan sayuran di China untuk diuji apakah makanan-makanan tersebut tercemar viirus corona baru atau tidak.
Sejauh ini, hasil pengujian terhadap sampel makanan tersebut semuanya negatif terinfeksi Covid-19.
Hal tersebut sesuai dengan konsensus organisasi kesehatan dan pangan internasional bahwa tidak ada bukti bahwa virus corona baru menyebar melalui bahan makanan atau kemasan.
Meski begitu, China tetap memperketat kontrol pada impor di tengah kekhawatiran wabah dapat dikaitkan dengan makanan dari luar negeri.
Baca: Benarkah Ruam Jadi Pertanda Gejala Covid-19? Ini Penjelasan Ahli
Baca: CDC Ungkap 3 Gejala Baru Infeksi Virus Corona, Mual dan Hidung Tersumbat
Dilansir oleh South China Mornging Post, China telah melakukan pembatasan termasuk pelarangan produk dari pabrik daging asing tertentu dan meminta eksportir untuk mengkonfirmasi keselamatan pengiriman mereka.
Langkah itu telah menimbulkan kekhawatiran di AS, yang memiliki kesepakatan perdagangan dengan China yang melibatkan volume besar ekspor makanan.
"Tidak ada bukti bahwa orang dapat terinfeksi Covid-19 dari makanan atau dari kemasan makanan," kata Sekretaris Pertanian AS Sonny Perdue dan komisioner Administrasi Makanan dan Obat-obatan Stephen Hahn mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu (24/6/2020).
"Sistem keamanan pangan AS, yang diawasi oleh agen kami, adalah pemimpin global dalam memastikan keamanan produk makanan kami, termasuk produk untuk ekspor,” paparnya.
Namun, peningkatan jumlah kasus Covid-19 itu telah membingungkan pemerintah di China setelah Beijing tidak melaporkan kasus infeksi baru selama 55 hari.
Berdasarkan penyelidikan, ditemukan virus corona yang menempel pada talenan yang digunakan untuk salmon impor di pasar grosir Xinfadi.
Hal tersebut lantas memicu spekulasi bahwa makanan yang terkontaminasi oleh pekerja yang sakit di luar negeri bisa membawa virus ke negara itu.
Pejabat kesehatan China telah mengakui bahwa kontaminasi dari luar negeri hanya satu teori, dan seorang pejabat bea cukai pekan lalu mencatat bahwa risiko penyebaran virus corona melalui perdagangan makanan "sangat rendah".
Sebuah buletin kesehatan masyarakat yang diedarkan minggu ini oleh media pemerintah tidak menyurutkan keinginan untuk mengonsumsi makanan impor, tetapi lebih menekankan kebersihan dan penanganan yang tepat.
China dan Norwegia merupakan produsen salmon terbesar di dunia, keduanya sepakat bahwa ikan Norwegia bukan sumber infeksi di Beijing, tetapi itu tidak mencegah penurunan tajam dalam penjualan makanan laut karena produk ditarik dari rak supermarket.
Demikian juga, pedoman untuk bisnis makanan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengatakan bahwa sangat tidak mungkin orang dapat terinfeski Covid-19 dari makanan atau kemasan makanan.
Mereka juga menggarisbawahi pentingnya kebersihan yang layak untuk mengurangi risiko permukaan makanan dan bahan kemasan makanan yang terkontaminasi dengan virus dari pekerja yang sakit.
Penelitian telah menunjukkan bahwa Covid-19 dapat bertahan hidup di beberapa permukaan selama beberapa hari dalam pengaturan lab.
Profesor epidemiologi Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong Benjamin Cowling mengatakan bahwa walaupun “secara teori masuk akal”, namun sangat tidak mungkin dalam kenyataan bahwa Covid-19 dapat melakukan perjalanan jarak jauh dengan daging atau produk makanan lainnya, dan menyebabkan infeksi setelah perjalanan panjang itu.
"Saya tidak berpikir pengawasan produk makanan atau kemasan makanan kemungkinan akan mencegah penularan Covid-19," katanya, seraya menambahkan bahwa ia juga tidak mengetahui bukti penyebaran penyakit semacam ini bahkan dalam kasus jarak yang lebih pendek, seperti pengiriman domestik.
Baca: Terungkap, Kasus Corona Pertama di Prancis Terjadi November, Menyebar Perlahan hingga Akhir Februari
Baca: Masa New Normal, 3 Lokasi Ini Berpotensi Jadi Titik Penularan Covid-19, Salah Satunya Kantor