Dalam komentarnya, Modi memuji dan menyemangati para tentaranya.
Menurut Modi, para tentara yang dipimpin Kolonel Santosh Babu memang kalah jumlah dari pasukan China yang menyerang pasukan India.
Namun, mereka masih menyerang balik musuh mereka.
Dalam prosesnya, Kolonel Santosh, menurut satu perkiraan oleh tentara, membunuh atau melukai lebih dari 40 tentara Tiongkok termasuk seorang komandan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.
"Negara akan bangga mengetahui bahwa mereka mati setelah mereka membunuh musuh mereka,” ujar Modi dalam sebuah video konferensi bersama menteri di New Delhi, Rabu (17/6) mengutip Hindustan Times.
Ia menyebutkan para tentara India menginginkan perdamaian, tetapi mampu melawan jika diprovokasi.
Selain itu, Ia menegaskan bahwa pemerintah mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan India, tetapi juga menyampaikan pesan keras ke Beijing.
Baca: India dan China di Ambang Perang, Negara Mana yang Terkuat Militernya?
Baca: 35 Tentara China Disebutkan Tewas Lawan India, Intelijen AS: China Enggan Mengakuinya, karena Malu
India juga selalu mempromosikan perdamaian di antara negara-negara lain termasuk China.
“Saya ingin meyakinkan bangsa bahwa pengorbanan tentara tidak akan sia-sia. Bagi kami, persatuan dan kedaulatan India adalah yang paling penting dan tidak ada yang bisa menghentikan kita dari melindunginya. Seharusnya tidak ada yang meragukan hal ini. India menginginkan perdamaian, tetapi mampu menjawab dengan tepat dalam setiap situasi, ” kata PM Modi.
Pernyataan Modi ini jauh dari keinginan perdamaian dengan China.
India tampaknya masih marah dengan klaim baru China atas Lembah Galwan, Himalaya Barat, perbatasan kedua negara.
Menteri Pertahanan India Rajnath Singh juga menyebutkan hilangnya tentara "sangat mengganggu dan menyakitkan".
“Bangsa tidak akan pernah melupakan keberanian dan pengorbanan mereka. Hati saya tertuju pada keluarga prajurit yang jatuh. Bangsa ini berdiri berdampingan dengan mereka di saat yang sulit ini. Kami bangga dengan keberanian dan keberanian para pemberani India, ” ujar Menteri Pertahanan itu.
Setelah bentrokan yang menewaskan seorang kolonel India, Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah memberikan perintah kepada angkatan bersenjata India untuk melakukan perekrutan darurat guna menambah cadangan perangnya.
Defence News mengutip Economic Times melaporkan Pemerintahan Modi sudah meminta Kepala Staf Pertahanan India, Jenderal Bipin Rawat, untuk berkoordinasi dengan tiga angkatan untuk memprioritaskan perekrutan jika perlu.
Mereka yang akrab dengan masalah tersebut mengatakan kepada Economic Times bahwa Angkatan Laut India juga telah mendapat lampu hijau untuk mengerahkan kapal perang di dekat Selat Malaka.
Bahkan, kalau perlu mereka akan menempatkan kapal perang di tempat lain di kawasan Indo-Pasifik. Mesin perang Angkatan Udara India termasuk pesawat tempur juga telah bergeser ke lokasi yang dekat dengan perbatasan China.
Melansir media China, Global Times, sebelum bentrokan berdarah itu pecah, ditempatkan meriam howitzer paling canggih di kendaraan militer, PCL-181 di wilayah perbatasan. Selain itu, mengirim tank Tipe 15 ke daerah itu.