Malaysia Tolak dan Minta Bangladesh Ambil Kembali 269 Pengungsi Rohingya: Mereka Tak Bisa di Sini

Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Sekelompok migran diselamatkan, sebagian besar Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh, mengangkat tangan mereka saat tiba di daerah kurungan baru di kota nelayan Kuala Langsa di Aceh pada 15 Mei 2015. Lebih dari 750 Rohingya dan migran Bangladesh diselamatkan pada tanggal 15 Mei. AFP PHOTO / Chaideer MAHYUDDIN

Beberapa bulan belakangan bahkan terdapat beberapa migran yang sebagian besar adalah penganut Buddha dari Myanmar juga terobang-ambing di lautan.

Mereka juga ingin masuk ke Malaysia, namun patroli laut negara terseut terus melakukan penghalauan.

Selain karena para migran tersebut illlegal, Malaysia juga khawatir mereka bisa membawa viruc corona masuk.

Sekelompok pengungsi Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh tidur di sebuah auditorium olahraga pemerintah di Lhoksukon di Provinsi Aceh pada 12 Mei 2015 setelah tim penyelamat Indonesia menemukan perahu mereka membawa 573 penumpang terdampar di perairan utara Aceh provinsi. Hampir 2.000 orang perahu dari Myanmar dan Bangladesh telah diselamatkan atau berenang ke pantai di Malaysia dan Indonesia. AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN (AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN)

Diketahui, jutaan pengungsi Rohingya di Bangladesh tinggal di kamp kamp tak terurus dan terkesan kumuh.

Sebagian besar dari mereka kabur dari Myanmar sesaat setelah kerusuhan di negara tersebut pada 2017.

Para pengungsi kemudian mulai menjangkau negara-negara tetangga di Asia.

Mereka rela bertaruh nyawa terombang-ambing di lautan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di negara-negara Asia.

Ketika mendarat di Langkawi pada Senin lalu, mereka secara perlahan didorong ke perairan internasional dan menjauhi wilayah otoriter laut Malaysia.

Sayangnya, ketika pihak keamanan mendekati kapal, 53 orang dari rombongan melompat ke laut dan kini ditahan.

Dalam kapal kemudian ditemukan 216 orang pengungsi Rohingya dan 1 mayat perempuan yang telah dievakuasi ileh otoritas setempat.

"Berdasarkan hasil investigasi, kapal itu sengaja dirusak dan tidak dapat diperbaiki, sehingga upaya push-back dihentikan," ungkap otoritas maritim Malaysia.

Oleh karena itu pihak Malaysia membawa kapal mendarat dan memberikan makanan serta minuman pada para pengungsi.

Baca: Kasus Positif Covid-19 Pertama Terkonfirmasi di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Baca: Tolak Dakwaan Lakukan Genosida Etnis Rohingya, Aung San Suu Kyi Di Bawah Pengaruh Militer?

Baca: Aung San Suu Kyi Tiba di Pengadilan Internasional, Myanmar Siap Disidang Kasus Genosida Rohingya

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)



Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer