Kasus virus corona di Surabaya yang melonjak tajam beberapa minggu terakhir menjadi pembahasan di acara ILC.
Dalam acara tersebut, secara blak-blakan pembawa acara Karni Ilyas menyinggung status zona merah di wilayah yang dipimpin Tri Rismaharini atau Risma itu.
Risma lantas langsung memberi klarifikasi soal status zona merah yang dilekatkan ke Surabaya.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku tidak peduli dengan status darurat yang dilekatkan pada wilayahnya.
Baca: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini Usulkan PSBB Surabaya Tak Diperpanjang Lagi, Ini Jawaban Khofifah
Baca: Sempat Jadi Zona Merah Tua, 519 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh dalam 5 Hari, Apa Rahasianya?
Seperti diketahui, Surabaya menjadi zona merah pekat dalam wabah Virus Corona (covid-19) dengan total kasus positif 3.439 per Selasa (9/6/2020).
Risma, sapaan akrabnya, mengaku lebih mempedulikan kesehatan warga daripada status tersebut.
Hal tersebut ia sampaikan saat dihubungi dalam tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) di TvOne, Selasa (9/6/2020).
Awalnya, presenter Karni Ilyas menyinggung status zona merah pada Kota Surabaya.
"Bagaimana Bu Risma melihat fenomena yang terjadi di kota Bu Risma? Yang katanya zona merah ini apa penyebabnya?" tanya Karni Ilyas.
Risma menyebutkan tidak begitu memerhatikan status warna pada zona.
"Terus terang saya tidak memerhatikan zona itu merah, biru, kuning, atau putih," jelas Tri Rismaharini.
Ia mengaku lebih memerhatikan kesehatan masyarakatnya.
Hal yang menjadi perhatian utama Risma adalah adanya orang tanpa gejala (OTG) yang sudah terinfeksi dan dapat menularkan virus.
"Yang saya perhatikan adalah warga saya yang sakit atau warga saya yang sebetulnya carrier (pembawa) tapi ada di luar karena dia tanpa gejala," papar Risma.
Risma mengkhawatirkan banyaknya OTG yang tidak menyadari kondisinya dan dapat menjadi penular.
"Tidak ada satu pun yang tahu dia pembawa atau carrier penyakit itu," ungkap Risma.
Maka dari itu, Risma berusaha melakukan tracing atau pelacakan tempat-tempat yang pernah dikunjungi pasien.
"Jadi karena itu hari demi hari saya melototin data pasien dan kemudian posisinya pasien ada di mana," papar Risma.
Setelah itu, Risma melakukan pemetaan kondisi tempat tinggal pasien tersebut.