Iran Membuat Versi Palsu dari Kapal Induk Amerika sebagai Target Serang dalam Latihan Perang

Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Iran Hassan Rouhani. Iran dikabarkan membuat replika kapal induk Amerika Serikat sebagai target serang dalam latihan perang. Kapal ini berada di pelabuhan selatan Bandar Abbas.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Iran diberitakan membuat versi palsu atau replika dari kapal induk Amerika Serikat (AS) di lepas pantai Teluk  untuk dipakai sebagi target dalam latihan militer.

Diberitakan oleh Arab News, replika kapal induk itu terlihat mirip kapal induk kelas Nimitz yang dikerahkan oleh Angkatan Laut AS melalui Selat Hormuz dan ke Teluk Arab.

Meski demikan, replika kapal versi Iran tersebut terlihat lebih kecil daripada yang asli.

Panjang replika itu sekitar 200 meter dan lebar 50 meter, sedangkan kapal induk kelas Nimitz lebih dari 300 meter dengan lebar 75 meter.

Menurut foto satelit yang diambil oleh Maxar Technologies seperti yang dilaporkan Arab News, replika ini membawa 16 jet tempur palsu di geladaknya.

Kapal palsu itu mengambang di pelabuhan selatan Bandar Abbas.

Penampilannya mengisyaratkan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) sedang mempersiapkan pengulangan tiruan yang dilakukan pada Februari 2015.

Replika tersebut juga menyerupai kapal induk yang digunakan dalam latihan militer yang disebut Nabi Besar 9, ketika speedboat menembakkan senapan mesin dan roket menyerbu kapal palsu, yang sebenarnya merupakan sebuah tongkang mengambang.

Baca: Iran, Rusia, China, dan Turki Justru Rayakan Kekacauan dan Kerusuhan di Amerika Serikat

Baca: AS dan NATO Gelar Latihan Perang di Tengah Pandemi, Pamer Kekuatan kepada Rusia

Salah satu fast attack craft milik IRGC (Akkasemosalman.ir)

Rudal yang bisa muncul ke permukaan ke laut kemudian menghancurkan replika itu.

"Kapal induk Amerika adalah depot amunisi besar yang menampung banyak rudal, roket, torpedo, dan lainnya," kata mantan kepala angkatan laut IRGC Laksamana Ali Fadavi pada saat itu kepada Arab News.

Iran, Rusia, China, dan Turki 'Rayakan' Kekacauan di Amerika Serikat

Banyak negara menyoroti kerusuhan dan kekacauan  yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini.

Insiden kematian George Floyd memicu banyak demonstrasi di negeri Paman Sam tersebut.

Namun, diberitakan oleh Jerusalem Post, sejumlah negara tampak 'happy' atau "merayakan" dengan peristiwa itu.

Baca: Akui Hubungannya dengan China Berada di ‘Titik Kritis’, AS Bakal Buka Kembali Konsulatnya di Wuhan

Pada hari Senin (1/6/2020), misalnya, media Iran banyak memberitakan sejumlah kisah yang menyoroti "keruntuhan" AS dengan mengutip sumber-sumber dari Rusia.

Mengutip Jerusalem Post, AS menjadi negara paling kuat di dunia setelah Uni Soviet dan negara-negara sekutunya hancur berantakan pada tahun 1989.

Namun, Rusia, China, Iran, dan Turki berusaha untuk bekerja sama lebih erat dan sering duduk di forum global yang tidak dihadiri AS.

Disebutkan, demi mengoordinasikan upaya melawan AS, negara-negara ini memiliki media pemerintah yang didanai dengan baik, seperti RT, TRT, Tasnim and Fars News Iran dan sejumlah media Tiongkok.

Kebijakan negara-negara ini adalah perlahan-lahan merusak AS dan menunggu saat-saat kelemahan AS untuk mendorong agenda mereka.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan baru-baru ini terkait kerusuhan di AS, dengan mengatakan bahwa Amerika adalah bagian dari "tatanan yang tidak adil" di dunia.

Halaman
12


Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer