Imbas Pandemi: Harta Jack Ma Raib 1,5 Milliar Dollar AS, Posisinya Bukan Lagi Orang Terkaya di China

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto diambil pada 15 Oktober 2019. Jack Ma, salah satu pendiri dan mantan ketua eksekutif Grup Alibaba, berbicara selama Konferensi CEO Global Forbes di Singapura.

Pandemi Corona ternyata ikut menguras kantong para konglomerat, tak terkecuali di Indonesia. 

Menurut catatan Bloomberg, nilai kekayaan empat dari lima taipan Indonesia yang masuk dalam daftar Bloomberg Billionares Index ambles dalam lima bulan terakhir tahun 2020.

Dikutip dari laman Kontan.co.id pada Senin (25/05/2020), sejak awal tahun ini hingga 24 Mei 2012 atau year-to-date (ytd), gabungan harta kekayaan dua bersaudara pemilik Grup Djarum, Budi Hartono dan Michael Hartono, telah merosot hingga US$ 11,83 miliar atau Rp 174,91 triliun (kurs Rp 14.785 per dollar AS) menjadi US$ 21,4 miliar.

Penurunan harta keluarga Hartono selama masa pandemi Covid-19 dinilai hal yang jamak.

Pasalnya, prospek salah satu lokomotif usaha keluarga Hartono, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga sedang tersendat.

Baca: Bos Amazon Jeff Bezos Minta Para Pemegang Saham Bertahan di Tengah Krisis Covid-19

Baca: Deretan Fakta Terbaru Kasus Jiwasraya, Laba Semu sejak 2006 hingga Investasi di Saham Gorengan

Buktinya, harga saham BBCA di Bursa Efek Indonesia pada penutupan perdagangan Rabu (20/05/2020) bertengger di posisi Rp 23.825 per saham.

Angka itu mengalami penyusutan 28,77% dibandingkan posisi awal tahun senilai Rp 33.450 per saham.

Di periode yang sama, kapitalisasi pasar (market cap) BBCA telah menguap Rp 237,30 triliun menjadi 587,41 miliar.

Bambang Hartono, salah satu orang terkaya di Indonesia. (djarumfoundation.org)

Taipan lain yang kekayaannya menyusut adalah Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito.

Selama lima bulan terakhir, harta Prajogo merosot US$ 2,4 miliar (Rp 35,48 triliun) menjadi US$ 6,24 miliar.

Dalam lima bulan, harga saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sudah menyusut 16,38% menjadi Rp 1.225 per saham.

Di periode tersebut, market cap BRPT sudah menurun Rp 21,36 triliun menjadi Rp 109,05 triliun. Sebagai informasi, Prajogo menguasai 71,53% saham Barito Pacific.

Prajogo juga menguasai saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Harga saham emiten petrokimia ini sudah menyusut 32,60% (ytd) menjadi Rp 6.925 per saham.

Di periode yang sama, market cap TPIA turun Rp 59,74 triliun menjadi Rp 123,50 triliun.

Adapun Tan Siok Tjien, istri mendiang pendiri PT Gudang Garam Tbk (GGRM), mencatatkan harta kekayaan US$ 6,41 miliar, per 24 Mei 2020.

Angka itu sudah menyusut US$ 1,4 miliar selama lima bulan terakhir.

ATM BCA dan BNI ikut terganggu sehubungan dengan kebijakan pemadaman listrik di wilayah Jabodetabek pada Minggu, (4/8/2019). (Kolase foto (Tribunnews.com))

Sedangkan Sri Prakash Lohia adalah satu dari lima taipan Indonesia di Bloomberg Billionaires Index yang nilai kekayaannya justru bertambah selama masa pandemi corona.

Pendiri perusahaan petrokimia dan tekstil Indorama Corporation itu membukukan harta kekayaan US$ 5,64 miliar, per 24 Mei 2020.

Angka tersebut sudah meningkat US$ 208 juta atau Rp 3,08 triliun dibandingkan posisi awal tahun.

Halaman
123


Penulis: Haris Chaebar
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer