Devi melanjutkan jika ke 24 perawat yang positif tersebut sama sekali tidak ada yang melayani pasien positif di zona Covid-19.
Mereka bertugas di poliklinik yang buka 3 kali sepekan dan hanya menerima pasien non-Covid-19.
Jika menurut dari protokol layanan di poliklinik, para perawat tersebut hanya diwajibkan mengenakan alat pelindung diri (APD) level 1.
Namun, perawat yang bekerja di zona Covid-19, harus memakai APD lengkap level 3 dengan tabir wajah (faceshield), masker N95, dan baju hazmat coverall.
Dari situ, Devi pun menduga jika sumber penularan Covid-19 kepada para perawatnya berawal dari pasien OTG Covid-19 yang dirawat dengan protokol pasien umum.
Baca: Meski Minim Klaster, Kasus Positif Covid-19 di Depok Tinggi, Epidemiolog: Penularan dari Jakarta
Baca: Sukses Cegah Covid-19, Kota Tegal Rayakan Penutupan Masa Lockdown dan PSBB dengan Pesta Kembang Api
Baca: Masyarakat Berkerumun di Mal dan Perbelanjaan, Pengunjung: Saya Tak Khawatir Corona
Wali Kota Depok Mohammad Idris mengaku akan mengevaluasi operasional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, sehubungan dengan kejadian ini.
Evaluasi yang akan dilakukan yakni mengenai aspek ketersediaan dan protokol penggunaan alat perlindungan diri (APD) bagi para perawat.
"Langkah ke depan, kalau benar-benar harus dibuka poli (non-Covid-19) untuk kebutuhan pasien, nanti kita lengkapi semua tenaga kesehatan-nya APD lengkap. Ini jadi pelajaran juga buat kami," jelas Idris kepada wartawan, Jumat.
Idris menambahkan, ia dan jajaran juga akan berdiskusi mengenai evaluasi poli-poli yang diizinkan beroperasi di RSUD Kota Depok.
Sebelumnya, beberapa poli non-Covid-19 di RSUD Kota Depok memang tetap buka untuk melayani pasien dengan keluhan dan riwayat penyakit lain, namun tak melayani rawat inap dan tak buka setiap hari.
"Rencana kami, beberapa poli yang tidak signifikan kami tutup, tapi yang signifikan kita buka, misalnya untuk menangani ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan spesialis penyakit dalam yang memang rutin, utamanya jantung dan sebagainya," ungkap Idris.
Sementara itu, Devi menekankan evaluasi pada mekanisme penapisan/screening awal pasien.
Sebab, ia pun menduga bahwa sumber penularan Covid-19 terhadap 24 perawat di RSUD Kota Depok akibat pasien di poliklinik.
Peristiwa ini setidaknya menunjukkan bahwa ada masalah dalam mekanisme penapisan, baik screening yang kurang ketat atau pasien yang kurang jujur.
"Di awal screening, lebih meng-anamnesa (pemeriksaan riwayat pasien) untuk bertanya soal kontak mereka, bagaimana aktivitasnya, kerjanya, dan keluarganya, screening lebih ketat," ujar Devi.
"Kami minta pasien-pasien secara jujur mengatakan bahwa dia ada gejala atau dicurigai PDP (pasien dalam pengawasan)," pungkas dia.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Saat Pembawa Virus Corona Tak Tunjukkan Gejala, Tularkan Covid-19 ke 24 Perawat di Depok"