"Tapi terus terang saya nggak nyangka kalau di masa PSBB pandemi Covid ini masih seperti itu," terangnya.
Ia mengaku perasaannya campur aduk ketika turun langsung ke pasar untuk melihat situasi.
"Jadi begitu turun ke pasar ya hati ini campur aduk, marah iya, kesal iya, geram iya, tapi sedih juga banyak," ungkapnya.
Bima Arya kecewa kepada warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan dan tidak peduli dengan petugas medis yang berjuang melawan Covid-19.
"Saya membayangkan perawat-perawat, dokter, suster yang waktu itu ngerawat saya," ujar Arya.
"Mereka berjibaku menyambung nyawa dengan penuh resiko di rumah sakit," sambungnya.
Baca: Pemprov Jatim Siapkan Sistem Ganjil Genap untuk Antisipasi Kluster Covid-19 dari Pasar Tradisional
Baca: Video Viral Seorang Memakai Kostum Dinosaurus Belanja di Mall & Naik Tesla, Dijuluki T-rex Sultan
Bima Arya sungguh menyayangkan perilaku warga yang tetap nekat berbelanja di tengah pandemi Covid-19.
Padahal, di sisi lain masih banyak pasien Covid-19 yang terus berjuang untuk melawan virus corona.
"Teman-teman saya satu angkatan yang hari ini masih positif belum negatif dan pasukan rebahan yang rela nggak kemana-mana," jelas Bima Arya.
Namun, menurut Bima Arya hal ini menjadi sangat sulit ketika banyak orangtua berbelanja ke pasar dengan alasan membeli baju lebaran untuk anaknya.
"Sementara banyak banget saat itu saya lihat 'mama belanja baju lebaran'.
Jadi susah waktu itu saya lihat, ini berat sekali kondisinya," ungkap Bima Arya.
Baca: Jokowi Beri Pesan Bagi Warga yang Ramaikan Pasar Jelang Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19
Dilansir Tribun Solo, seorang pakar pembuat pakaian Lana Hogue menekankan pentingnya mencuci pakaian langsung dari toko.
Terutama jika pakaian ini dibeli saat adanya pandemi Covid-19.
"Anda harus mencuci pakaian Anda sebelum memakainya, terutama jika itu pakaian yang langsung menyentuh kulit," kata Lana Hogue.
Menurut Lana Hogue terdapat dua alasan.
Pertama, pakaian tersebut telah dipegang banyak orang dan berisiko adanya virus corona.
Pakaian tersebut bisa saja menjadi sarana penularan virus atau penyakit lainnya.
Kedua, karena potensi bahan kimia selama proses pembuatan pakaian.