Bossman Mardigu Sebut Virus Corona Dibuat oleh Manusia, Ahli Biomolekuler: Buktikan Saja!

Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mardigu Wowiek Prasantyo. Mardigu mengklaim bahwa virus covid-19 adalah buatan manusia.

"Cuma masalahnya, asuransi yang model Obama Care itu mahal banget."

"Sehingga, Partai Republik yang intinya enggak mau dipajakin lebih mahal lagi, mereka menolak," kata Ahmad.

"Jadi ini intinya masalah klasik di bidang kesehatan (AS) dan enggak ada hubungannya sama virus. Itu jauh banget," imbuhnya.

Selain itu, Ahmad juga mengatakan tidak ada hubungannya dunia farmasi dengan virus, seperti yang disampaikan Mardigu.

"Di satu sisi farmasi memang besar, banyak profitnya, terlepas dari Covid-19 ya."

"Tapi, itu juga karena masalah sistem kapitalisme yang memungkinkan itu," katanya.

Baca: 5 Poin Covid-19 adalah Konspirasi Manusia Menurut Mardigu Wowiek, Berikan Solusi untuk Menghadapinya

Baca: Pakar Ungkap Alasan Mendasar Virus Corona Berasal dari Alam, Bukan Buatan Manusia

Baca: Pakai Strategi Sederhana, 3 Negara di Asia Ini Berhasil Taklukkan Virus Corona, Bagaimana Caranya?

Kembali ke obrolan Mardigu dan Deddy, pengusaha itu sempat menyinggung sebuah penelitian dari Cambridge University.

"Berbicara tentang virus corona ada banyak versi, tetapi saya lebih senang pakai data science aja."

"Jadi Cambridge University mengadakan research yang cukup panjang, kebetulan salah satu Profesor di sana, doktor ya, itu adalah sahabat saya orang Malaysia."

"Jadi sejak Februari, dia sering WA-an (WhatsApp-an), dia bilang waktu bulan Februari kok behavior-nya ini (virus) kayak AIDS ya dan itu ngambil imunitas," kata Mardigu.

Ahmad mengingatkan, peneliti pun dapat salah.

Pada akhir Januari 2020, China merilis sekuens genom lengkap dari SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Namun, saat itu mekanisme penularan awal virus corona masih belum jelas.

Sekuens genom SARS-CoV-2 ini pun dapat dilihat oleh semua orang dan para peneliti di seluruh dunia dapat melakukan penelitian lebih lanjut dari data tersebut.

Ilustrasi pasien Covid-19 sedang dirawat di RS. (Grid.id)

"Kemudian di awal Februari, itu ada paper dari India."

Jadi mereka menganalisa sekuens lengkap itu dan menemukan ada inversi (susunan) sekitar empat atau lima asam amino yang seperti inversi di virus HIV. Artikelnya ini baru preprint belum yang peer-review," kata Ahmad.

Sebelumnya perlu diketahui, preprint merupakan pengarsipan artikel (self archiving) secara online yang dipersiapkan untuk publikasi formal.

Para peneliti menggunakan preprint server sebagai media untuk diskusi dan open peer-review.

Sementara makalah peer-review adalah hasil penelitian yang sudah melalui proses penelaah sejawat.

Penelitian itu dilakukan oleh Indian Institute of Technology (IIT), salah satu badan penelitian well respected atau sangat dihormati.

Halaman
123


Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr

Berita Populer