Meski demikian, data menunjukkan bahwa beberapa negara sudah mengalami fase penurunan kasus Covid-19.
Sementara itu, berbagai institusi dan perusahaan farmasi di dunia masih berlomba menemukan vaksin virus corona.
Dilansir dari Kompas.com, saat beberapa peneliti memfokuskan perhatiannya pada pelacakan kasus Covid-19 yang menyebar secara global, beberapa peneliti lain mencoba melacak mutasi yang dilakukan virus.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan di Arizona State University (ASU), Amerika Serikat yang dituangkan dalam Journal of Virology menemukan 81 huruf dalam genom virus SARS-CoV-2 telah menghilang.
Mantan direktur Program Kanker WHO, Profesor Karol Sikora, melalui akun Twitternya ikut mengomentari temuan tim ASU ini.
Melansir dari Medical News Today, mutasi virus merupakan bagian normal dari sebuah evolusi virus.
Mutasi, mampu mengubah tingkat keparahan penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut.
Baca: Positif Corona di Indonesia Makin Bertambah, Luhut Binsar Sebut TKA China Siap ke Tanah Air Juni Ini
Baca: Kluster Baru Penyebaran Virus Corona di Korea Selatan, Diakibatkan Longgarnya Aturan Lockdown
Dalam kasus SARS-CoV-2, temuan tersebut mungkin berhubungan dengan perubahan penyakit menjadi kurang parah.
Mutasi sendiri dapat terjadi saat perubahan materi genetik bergabung dalam genom virus dan berlanjut ke generasi berikutnya.
Dalam kasus virus, satu generasi biasanya merupakan siklus infeksi tertentu.
Proses Penelitian Tim awalnya melakukan penelitian tentang virus influenza, tetapi saat pandemi mulai menyebar, mereka beralih pada Covid-19.
Ada 382 sampel yang diteliti, dari jumlah tersebut mereka menemukan lima sampel berisi SARS-CoV-2.
Mereka selanjutnya melakukan pengurutan kode genetik pada RNA dari SARS-CoV-2, kemudian menentukan 30.000 karakter kode genetik virus.
Baca: Inilah 6 Berita Gembira Terkait Penanganan Virus Corona di Tanah Air
Baca: Amerika Kewalahan Tangani Covid-19, Kini Donald Trump Harus Jalani Tes Virus Corona Setiap Hari
Melansir dari Medical Express, tim penelitian ini menggunakan teknologi baru yang disebut next-generation sequencing yang memungkinkan mereka menentukan kode genetik dengan cepat.
Setelah membandingkan urutan SARS-CoV-2 dengan yang ada di basis data GISAID, salah satu virus menunjukkan mutasi unik yang melibatkan penghapusan 81 huruf dari genom virus.
“Salah satu alasan mutasi ini menarik adalah karena ini mencerminkan penghapusan besar yang muncul dalam wabah SARS 2003,” terang Dr. Efrem Lim, Asisten Profesor di School of Life Sciences di ASU dan sekaligus ketua tim peneliti.
Penelitian yang ada sebelumnya telah menunjukkan bahwa adanya penghapusan kode semacam itu mengurangi kemampuan virus corona di wabah SARS 2003 melakukan replikasi.
Baca: Viral Barang-barang Bermerek Diselimuti Jamur karena Mall Ditutup Selama Pandemi Virus Corona
Baca: 7 Karyawan Pusat Grosir Sleman Dinyatakan Positif Corona, Pengunjung Lakukan Rapid Test Massal
Hilangnya huruf dalam genom yang diidentifikasi tim ASU adalah bagian kode yang berperan menghasilkan protein dalam virus.
Mereka percaya, protein tersebut adalah protein yang merupakan kunci SARS-CoV-2 menghindari pertahanan manusia yang memungkinkannya bereplikasi dengan cepat.