Didi Kempot mengaku tidak tahu asal-usul penyebutannya sebagai the Godfather of Broken Heart.
“Saya enggak tahu persis, tiba-tiba itu muncul sempat ramai juga itu. Ternyata di situ ada beberapa teman-teman di Solo juga, anak-anak muda malah.”
“Itu ternyata dia sangat peduli dengan budaya yang ada di sini, akhirnya muncul apa lah itu.”
“Saya jadi bapaknya bocah-bocah patah hati, Godfather of Broken Heart,” aku Didi Kempot.
Mendapat julukan itu, ia mengaku tidak heran tetapi sempat bingung.
Mengapa?
Baca: Tak Punya Riwayat Penyakit, Dokter Ungkap Kemungkinan Penyebab Meninggalnya Didi Kempot
Baca: Meninggal Dunia di RS Kasih Ibu Solo, Penyanyi Campursari Didi Kempot Akan Dimakamkan di Ngawi
Alasannya, kata Didi, karena sebagian besar cerita lagunya memuat kisah-kisah sedih patah hati yang pasti banyak dialami sebagian besar anak muda.
“Sempat bingung, satu orang sakit hati saja sudah bikin bingung, ini saya jadi bapaknya cah-cah loro ati banyak sekali," ujar Didi.
Akan tetapi, pria yang wafat di usia 53 tahun itu mengaku senang dan tidak merasa terganggu dengan julukan-julukan yang ditujukan kepadanya.
“Tapi terima kasih, tidak ada masalah, saya suka, matur nuwun,” ujar Didi yang langsung disambut tepukan tangan meriah para penonton.
“Lord Didi”, “Sobat Ambyar”, “Sad Boys”, dan “Sad Girls”, dan sebagainya menjadi fenomena sendiri di tengah dunia musik Indonesia khususnya di daerah-daerah.
Acara Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) Didi Kempot yang diusung oleh Gofar Hilman menjadi salah satu bukti fenomena ini.
Dalam acara tersebut, Jarkiyo termasuk salah satu yang membantu terselenggaranya acara Ngobam Didi Kempot.
Baca: Penyanyi Didi Kempot Tutup Usia, Pernah Berkarier sebagai Pengamen dan Jadi Duta Kereta Api
Baca: Didi Kempot Meninggal Dunia, Sang Kakak Ungkap Almarhum Sempat Keluhkan Sakit dan Panas
Jarkiyo mengaku tidak menyangka acara tersebut mendapat sambutan demikian besar.
“Ra nyongko, jebul loro ati nek ditelateni hasile lumayan (tidak disangka, ternyata sakit hati kalau ditelateni hasilnya lumayan),” kata Jarkiyo.
Para “Sad Boys” dan “Sad Girls” yang datang sebagian besar berasal dari kalangan muda-mudi, tidak hanya dari Solo tetapi juga dari kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mereka berkumpul bersama menyimak dengan saksama cerita dari Sang Legenda.
Selain itu, mereka juga kompak ikut bernyanyi dan joget bersama menikmati setiap lagu sendu yang dibawakan Didi Kempot pada awal dan akhir acara.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Di Balik Julukan "Godfather of Broken Heart" untuk Didi Kempot"