Sejak masih muda dia terlibat aktif dalam gerakan antikemapanan seperti penandatanganan Manifes Kebudayaan, demonstrasi tahun 1966 yang penuh mitos, Golput pada tahun 1971 dan lain-lain.
Arief terkenal mempunyai sikap keras kepada penguasa, namun juga tak segan memuji tokoh-tokoh yang memiliki sikap dan pandangan yang ia anggap baik untuk Indonesia meskipun tokoh yang ia puji bertentangan pendapat dengannya.
Baginya, masalah dilihat sebagai komunikasi mengadu gagasan.
Sebagai intelektual, Arief terlihat sering menggunakan pemikiran strukturalisme guna menggugat kapitalisme Orde Baru.
Ia bersuara nyaring mempertanyakan masalah kebijakan pembangunan, kemiskinan, ketidakadilan, dan terabaikannya hak asasi manusia.
Kritiknya masih berlanjut walaupun rezim Soeharto sudah berakhir.
Sebagai tokoh gerakan demokrasi, Arief menjadi semacam simpul dari berbagai aktivis gerakan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka, Kompas.com)
Baca: Materi SMA Belajar dari Rumah di TVRI: Alasan UNESCO Tetapkan Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul, "Meninggal Dunia, Sosiolog Arief Budiman Dimakamkan di Taman Makam Bancaan Salatiga"