Pada Sabtu (18/4/2020) pagi, WHO memberikan peringatan bahwa tes antibodi virus corona tidak membuktikan kekebalan tubuh seseorang setelah pulih dari Covid-19.
Artinya, orang yang berhasil pulih dari Covid-19 bisa kembali berisiko terkena Covid-19.
Hal tersebut karena tes serologis atau tes antibodi virus corona itu hanya dapat menunjukkan kekebalan tubuh dalam darah seseorang.
Sementara itu, keberadaan antibodi hanya menunjukkan jika seseorang memiliki Covid-19, baik dengan gejala atau tanpa gejala.
“Tes antibodi ini akan dapat mengukur tingkat kehadiran serologi, tingkat antibodi itu, tetapi itu tidak berarti bahwa seseorang dengan antibodi kebal (terhadap Covid-19)," kata Head WHO Emerging Diseases dan Zoonosis unit, Dr. Maria Van Kerkhove, seperti dilansir NYPost.
Di samping itu, Mike Ryan selaku direktur eksekutif program kedaruratan WHO mengatakan tidak yakin jika seseorang dengan antibodi penuh bisa terlindungi dari Covid-19 lagi.
Baca: WHO Kehilangan Sumbangan Rp 6,3 Triliun dari AS di Tengah Pandemi Covid-19, Bill Gates: Bahaya
Baca: Hentikan Pendanaan untuk WHO, Langkah Donald Trump Justru Bisa Perkuat Pengaruh China di Dunia
"Tidak ada yang yakin apakah seseorang dengan antibodi penuh terlindungi dari penyakit lagi," jelasnya.
"Ditambah beberapa tes memiliki masalah dengan sensitivitas.
Mereka mungkin memberikan hasil negatif palsu," tambahnya.
Diketahui, Amerika Serikat baru saja melakukan tes antibodi.
Presiden Donald Trump merekomendasikan sejumlah negara untuk menggunakan tes itu ketika melonggarkan lockdown untuk memerangi pandemi.
Tes darah antibodi, juga dikenal sebagai tes serologi, menganalisis darah dari tusukan jari.
Prosesnya berbeda dari tes coronavirus yang menyeka hidung dan tenggorokan.
Hasilnya mendukung kepercayaan di antara para ahli kesehatan bahwa secara signifikan lebih banyak orang telah terinfeksi karena beberapa orang tidak menunjukkan gejala.
Oleh karena itu, tes antibodi ini dipercaya dapat memberikan cara mudah untuk mendeteksi orang tanpa gejala.
Kerkhove mengatakan para pejabat WHO menemukan banyak negara menyarankan tes ini karena mampu menggambarkan ukuran kekebalan tubuh.
“Kegunaaan tes ini akan mengukur tingkat antibodi. Tubuh memiliki waktu satu atau dua minggu merespons setelah terinfeksi virus ini," katanya pada konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss.
Namun, saat ini WHO tidak memiliki bukti yang menyatakan hasil tes antibodi itu menunjukkan seseorang kebal dan tidak akan terinfeksi Covid-19 lagi.