Kanselir Jerman Angela Merkel Resmi Umumkan Rencana Cabut Sejumlah Pembatasan COVID-19

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto: Kanselir Jerman Angela Merkel berpidato di konferensi pers mengenai langkah-langkah pemerintah untuk menghindari penyebaran lebih lanjut COVID-19, pada 15 April 2020 setelah konferensi video dengan para pemimpin negara-negara federal Jerman di kanselir di Berlin. Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan langkah pertama dalam membatalkan pembatasan coronavirus yang telah menjerumuskan ekonomi ke dalam resesi, dengan sebagian besar toko diizinkan untuk membuka meskipun sekolah harus tetap ditutup sampai 4 Mei

Trump menuduh WHO salah mengelola dan menutupi penyebaran virus corona.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa masalah itu dapat diatasi jika WHO akurat menilai situasi di China akhir tahun lalu.

Komisioner Tertinggi sekaligus Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengutuk langkah pembekuan dana yang dilakukan Trump.

Sementara, miliarder Bill Gates -penyumbang utama- WHO menyebut dalam Twitter bahwa pemotongan dana itu berbahaya.

"Tak diragukan lagi, sejumlah perbaikan wilayah akan (segera) diidentifikasi dan akan ada pelajaran bagi kita semua untuk terus belajar," kata pimpinan WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Di lain hal, sekutu AS yaitu negara-negara di Erropa sepakat menolak langkah Trump.

Senada dengan mereka, sejumlah negara rival Washington mengutuk Trump, seperti Rusia yang menyebut bahwa AS memakai pendekatan yang egois. China dan Iran juga mengecam keputusan tersebut.

Ketika negara-negara di Eropa masih maju-mundur dalam membuka pembatasan, di negara-negara miskin yang padat penduduknya, banyak pemerintahan negara yang masih berjuang menegakkan kebijakan pembatasan.

Kekhawatiran akan kelaparan dan kemungkinan kerusuhan sosial skala global menyelimuti sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin.

Di Cape Town, Afrika Selatan, meletus bentrokan antara warga dan polisi terkait persoalan akses bantuan makanan.

Krisis serupa terjadi di Ekuador, saat kelaparan melanda negara tersebut melampaui ketakutan akan bahaya COVID-19.

"Polisi menyergap dengan cambuk, orang-orang berlari, tapi bagaimana bisa kamu menyuruh orang miskin untuk tetap di rumah saat tak ada cukup persediaan yang bisa dimakan?," kata Carlos Valencia, seorang warga Ekuador, guru berusia 35 tahun yang mempertanyakan kebijakan pemerintahannya.

-

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer