Studi Harvard: Social Distancing untuk Cegah Penyebaran Covid-19 Mungkin Diperlukan hingga 2022

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Penduduk, yang memakai masker wajah sebagai tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona COVID-19, mempraktikkan social distancing ketika mereka menunggu untuk diuji di pusat pengujian cepat sementara dekat rumah sakit Bach Mai di Hanoi pada 31 Maret 2020.

Mempertahankan social distancing akan memberi rumah sakit waktu untuk meningkatkan kapasitas perawatan kritis sambil memungkinkan kekebalan populasi menumpuk.

"Tujuan kami dalam memodelkan kebijakan semacam itu bukan untuk mendukungnya tetapi untuk mengidentifikasi kemungkinan lintasan epidemi di bawah pendekatan alternatif," tulis para peneliti seperti dikutip dari Daily Mail.

'Intervensi tambahan’, termasuk kapasitas perawatan kritis yang diperluas dan terapi yang efektif, akan meningkatkan keberhasilan jarak yang terputus-putus dan mempercepat perolehan kekebalan kelompok.

Studi serologis longitudinal sangat dibutuhkan untuk menentukan tingkat dan durasi kekebalan terhadap Sars-CoV-2 (COVID-19).

Bahkan dalam hal eliminasi yang nyata, pengawasan Sars-CoV-2 (COVID-19) harus dipertahankan karena kebangkitan dalam penularan dapat dimungkinkan hingga akhir 2024.

Baca: Update Pasien Virus Corona hingga 15 April 2020 di Seluruh Dunia: Total 1.973.715 Kasus

Berdasarkan data yang dirilis worldometers.info, hingga Rabu (15/4/2020), jumlah kasus virus corona di seluruh dunia telah mendekati angka 2 juta kasus, yakni sebanyak 1.995.947 dengan total kematian sebanyak 126.537.

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak di dunia, yakni 612.320 dimana sebanyak 25.379 merupakan kasus baru.

sedangkan jumlah korban meninggal adalah sebanyak 25.989.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)



Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer