Sebeumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengaku pihaknya tengah mendalami kemungkinan adanya aktor di belakang kasus ini.
“Sementara ini masih didalami terus oleh tim,
Apakah kemungkinan ada aktor di belakanganya atau pihak yang mendanai dan membiayai kelompok anarko ini,” jelas Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Senin (13/4/2020) seperti dikutip dari Wartakota Live.
Menurut Yusri, kelompok ini terstruktur meski tidak memiliki pimpinan.
"Terstruktur tapi pergerakannya menggunakan media sosial yang ada," ujarnya.
Yusri memastikan tujuan kelompok ini adalah membuat rusuh dan memancing keonaran di masyarakat.
"Waktu di Bandung 2019 lalu saat demo buruh, Mereka ini pakai baju hitam-hitam dan membakar pospol,
Artinya kelompok ini masih kami dalami semuanya," terang Yusri.
Sebelumnya Polda Metro Jaya memastikan masih terus mendalami kasus vandalism yang dilakukan 5 tersangka dari kelompok Anarko Sindikalis di Tangerang.
Apalagi diketahui kelompok ini berencana melakukan aksi vandalism serentak di seluruh Indonesia pada 18 April mendatang.
Kelima tersangka diamankan petugas pada Jumat, (10/4/2020) dan Sabtu (11/4/2020) dini hari.
Baca: RSUD Kabupaten Banggai Luwuk
Baca: FILM - A Thousand Words (2012)
Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan, para tersangka mengaku kelompok Anarko yang memiliki paham atau ideologi anarkisme sindikalis.
"Mereka melakukan vandalisme dengan membuat tulisan provokasi dengan pilox di empat lokasi di Tangerang."
"Yang tujuannya mengajak masyarakat membuat keonaran dan melakukan penjarahan di tengah situasi wabah Covid-19 ini," ungkap Nana di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (11/4/2020).
Tulisan vandalisme yang mereka buat di empat lokasi itu di antaranya 'Kill The Rich' yang artinya bunuh orang kaya, 'Sudah Krisis Saatnya Membakar', serta 'Mau Mati Konyol atau Melawan'.
Empat lokasi aksi vandalisme mereka adalah di Toko di Pasar Anyar di Jalan Kiasnawi Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
"Vandalisme berupa tulisan provokasi itu mereka buat pada Kamis 9 April 2020 malam hari," jelas Nana.
Ia mengatakan, dari tangan kelimanya diamankan sejumlah barang bukti, termasuk buku-buku mengenai paham anarkisme sindikalis.
"Paham mereka adalah anti kemapanan. Jadi mereka ini tidak puas dengan kebijakan pemerintah, sehingga memanfaatkan situasi di tengah wabah Pandemi Covid-19 ini."
"Untuk semakin membuat masyarakat resah agar terjadi keonaran, penjarahan, dan kerusuhan," tuturnya.