Pantang Lengah, Pasien Sembuh Covid-19 Diimbau Tetap Batasi Aktivitas, Tak Interaksi Selama 14 Hari

Penulis: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Para pekerja medis membawa seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun pada 16 Maret 2020 untuk para pasien coronavirus di Gemelli di Roma.

Namun, untuk pertama kalinya, sebuah riset mengidentifikasi empat tipe sel imun yang tampil untuk memerangi Covid-19.

Keempat tipe sel imun ini diamati dengan melacak seorang pasien yang mengalami kasus virus corona dengan gejala ringan-sedang dan tidak punya masalah kesehatan sebelumnya.

Baca: Waspada, Ternyata Suhu Tubuh di Bawah 35 Derajat Justru Disebut Mematikan, Begini Penjelasannya

Baca: Darurat, Pemerintah Jadikan Wisma Atlet sebagai Tempat Merawat Pasien Covid-19

Pasien perempuan berusia 47 tahun dari Wuhan, China itu, telah mendatangi sebuah rumah sakit di Australia. Dia pulih dalam 14 hari.

Prof Kedzierska menceritakan kepada BBC, timnya telah memeriksa keseluruhan respons imun pasien ini.

Tiga hari sebelum kondisi perempuan ini mulai membaik, sel-sel tertentu dapat dilacak pada aliran darahnya.

Pada pasien dengan influenza, sel-sel yang sama ini juga muncul pada waktu yang hampir sama sebelum si pasien kemudian membaik, kata Prof Kedzierska.

"Kami sangat gembira dengan hasil kami dan fakta bahwa kami bisa menangkap kemunculan sel imun pada pasien terinfeksi sebelum membaik secara klinis," paparnya kepada BBC.

Ia menambahkan, puluhan ilmuwan bekerja secara penuh selama empat pekan guna menyampaikan analisis penelitian.

Mengetahui kapan sel-sel imun bekerja dapat membantu memprediksi alur virus, kata Prof Bruce Thompson, dekan ilmu kesehatan dari Swinburne University of Technology.

"Ketika Anda tahu kapan beragam respons terjadi, Anda dapat memprediksi apakah Anda pulih dari virus tersebut," kata Prof Thompson kepada BBC.

Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt, mengatakan temuan ini juga dapat "mempercepat" vaksin dan potensi perawatan untuk pasien-pasien terinfeksi.

Prof Kedzierska mengatakan langkah selanjutnya bagi para ilmuwan adalah mencari tahu mengapa respons kekebalan tubuh lebih lemah dalam kasus-kasus yang parah.

"Kuncinya sekarang adalah memahami apa yang kurang atau berbeda pada pasien yang meninggal dunia atau mengalami penyakit parah—sehingga kami bisa memahami bagaimana cara melindungi mereka," cetusnya.

Pada Januari lalu, institut tersebut menjadi lembaga pertama di dunia yang dapat menciptakan virus corona di luar China.

Sejak saat itu lembaga tersebut telah menerima dana tambahan dari pemerintah Australia serta sumbangan dari sektor bisnis dan miliuner China, Jack Ma.

(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Kompas.com/Jimmy Ramadhan Azhari)



Penulis: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer