Sebanyak 13 Pasien DBD di Sikka Meninggal Dunia, Menkes: Itu Kehendak Tuhan, Bukan Kesalahan Kita

Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memberikan keterangan kepada wartawan menjelang kedatangan WNI dari natuna di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020).(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Bupati Sikka, NTT, Fransiskus Roberto Diogo menyebut masalah sampah sebagai salh satu penyebab kasus demam berdarah di Kabupaten Sikka.

Roberto mengakui, lemahnya penanganan sampah menjadikan Kota Maumere dalam kondisi jorok.

"Persoalan kita adalah kebersihan. Kalau lebih ekstrem orang bilang jorok. Kita lihat saja sampah masih berserakan di mana-mana," ungkap Roberto, kepada awak media, Senin (9/3/2020), seperti dikutip dari Kompas.com.

Ia juga mengatakan, sampah botol-botol plastik, gelas-gelas plastik, itu yang jadi salah satu penyebab DBD.

Karena, saat hujan, sampah terisi air, sehingga menjadi tempat berkembang diaknya nyamuk.

Baca: Kemenkes Sebut Virus Corona Kini Lebih Jinak, Ada Perubahan Gejala, Ini Penjelasan Lengkapnya

Roberto mengakui, hal tersebut terjadi lantaran saat ini petugas kesehatan kebersihan masih kurang.

"Jadi, gerakan pemberantas sarang nyamuk (PSN) massal, selain memberantas sarang nyamuk, ini juga momentum kita melakukan pembenahan," ungkap Roberto. 

Roberto menegaskan, dirinya telah menginstruksikan, mulai Senin (9/3/2020) sampai 14 hari ke depan agar seluruh pihak melaksanakan gerakan pemberantasan nyamuk (PSN) secara massal.

Sebelumnya diberitakan, penderita DBD di Kabupaten Sikka, NTT, melonjak tajam sejak Januari hingga Maret 2020.

Penderita DBD itu dirawat di RSUD Tc Hillers Maumere yang menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Sikka.

 (Tribunnewswiki.com/Ami Heppy, Kompas.com/Nansianus Taris)



Penulis: Amy Happy Setyawan
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer