Akibat Merebaknya Virus Corona, Polusi Udara di China Turun Drastis

Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pantauan polusi udara oleh Satelit NASA di Cina.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Karantina yang dilakukan China untuk menekan persebaran virus corona di China dan seluruh dunia ternyata memiliki satu efek samping yang tidak terduga.

Efek samping tersebut adalah penurunan polusi udara yang signifikan dan berkelanjutan.

Pada Sabtu (29/2/2020) NASA menyatakan bahwa pihaknya telah melihat penurunan yang signifikan pada Nitrogen Dioksida (NO2) berbahaya di China sejak Januari hingga Februari 2020.

Nitrogen dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar, mobil, pembangkit listrik, dan mesin konstruksi tersebut mampu memperburuk gejala pernapasan dan asma.

Kota-kota di China termasuk ke dalam udara paling tercemar di dunia.

Menurut laporan IQAir, Hotan dan Kashgar merupakan dua kota dengan kualitas udara terburuk di China.

Pada Sabtu (29/2/2020), NASA menerbitkan gambar dari pantauan satelit yang menunjukkan kadar NO2 di China sebelum dan setelah negara tersebut mulai mengarantina warganya.

Tidak seperti tahun 2019, level NO2 di tahun 2020 tidak kembali naik setelah perayaan Tahun Baru Imlek. (earthobservatory.nasa.gov/)

Baca: Positif Terinfeksi Virus Corona, Pasien Justru Baru Tahu dari Pengumuman Jokowi

Baca: Agar Tak Salah Kaprah, Ini 11 Mitos Virus Corona yang Wajib Diketahui, Soal Masker hingga Peliharaan

Baca: Restoran Paloma Bantah Wanita Positif Virus Corona Jadi Anggota Komunitas Dansa : Tamu Biasa

Hasil pantauan satelit ini juga menunjukkan penurunan polutan secara drastis di sekitar kota Wuhan, yang menjadi sumber wabah dan juga sebagai kota pertama yang dikarantina.

Dilansir dari bussinesinsider.sg, Fei Liu, seorang peneliti kualitas udara di NASA, mengatakan bahwa penurunan kadar NO2 secara drastis baru pertama kali ini terjadi di sebuah lahan yang sangat luas

“This is the first time I have seen such a dramatic drop-off over such a wide area for a specific event,”

(ini adalah kali pertama saya melihat penurunan dramatis di area seluas itu untuk acara tertentu), ucap Fei Liu.

Sebelumnya, penurunan polusi di Tiongkok terkesan normal pada perayaan dan acara tertentu.

Pabrik-pabrik dan bisnis lainnya tutup pada perayaan Tahun Baru Imlek di akhir Januari dan awal Februari.

Hal tersebut menyebabkan penurunan polusi udara di China.

Acara-acara besar lainnya, seperti Olimpiade Beijing, juga dapat menyebabkan penurunan, namun tingkat polusi udara dengan cepat kembali naik.

NASA menyatakan penurunan tahun ini lebih besar daripada biasanya.

Gambar hasil pantauan satelit NASA yang menunjukkan penurunan polutan drastis di Wuhan. (earthobservatory.nasa.gov/)

Baca: 2 Orang Warga Depok Positif Terinfeksi Virus Corona, Jokowi: Kita Tidak Perlu Terlalu Ketakutan

Baca: COVID-19 Mulai Ancam Indonesia, Berikut 5 Fakta Tentang Virus Corona: Tingkat Kesembuhan Tinggi

Baca: Restoran Amigos, Tempat Dansa WNI Positif Corona dan WN Jepang Tegaskan Karyawannya Bebas Virus

Satelit pemantau polusi NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) telah mendeteksi penurunan signifikan pada nitrogen dioksida (NO2) di China.

Terdapat bukti bahwa perubahan tersebut setidaknya sebagian besar berkaitan dengan perlambatan ekonomi setelah memuncaknya virus corona.

Pada akhir 2019, para profesional medis di Wuhan, China, merawat puluhan kasus pneumonia yang tidak diketahui bersumber dari mana.

Beberapa hari kemudian, para peneliti mengkonfirmasi bahwa penyakit itu disebabkan oleh virus corona (COVID-19).

Halaman
12


Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Putradi Pamungkas

Berita Populer