Rahayu menyebut jika airnya tidak panas, gas karbon yang keluar berasal dari lapisan tanah yang tidak terlalu dalam.
"Kalau panas, berarti dia berada di jalur magma," imbuhnya.
Baca: Dari Hujan Meteor sampai Gerhana Matahari Cincin, Ini 4 Fenomena Langit di Akhir Tahun 2019
Baca: Meski Indah, Fenomena Topi Awan di Gunung Rinjani Ternyata Menyimpan Bahaya
Sementara itu Rahayu menyebut peristiwa tersebut tidak membahayakan.
"Kalau membahayakan ya tidak, karbonnya kan berkadar rendah. Dikasih korek juga tidak akan menyala," ujarnya.
Akan tetapi, gas tersebut tidak sehat jika dihirup.
"Tapi kalau dihirup ya tidak sehat, soalnya itu karbon, yang seharusnya kita keluarkan saat bernafas, bukan untuk dihirup. Tapi tidak sampai meracuni," ungkapnya.
Lebih lanjut, Rahayu menjelaskan gas akan naik ke permukaan tanah jika lempeng-lempeng mengalami gesekan.
"Gas yang berada di dalam akan terdesak masuk naik ke atas," ungkapnya.
Sedangkan jika lempeng-lempeng menjauh, tanah akan amblong.
"Bisa menjadikan lobang besar," tuturnya.
Rahayu juga menyebut peristiwa gesekan lempeng yang besar juga bisa menjadi sebab munculnya sebuah bukit.
"Jadi ada lempeng-lempeng kecil yang saling bergesekan," ucapnya.
Kemungkinan Lain
Selain adanya pergerakan lapisan dalam tanah, ada dugaan lain yang bisa saja menjadi faktor fenomena tersebut.
"Ada kemungkinan lain adanya peristiwa dekomposi," ujar Rahayu.
Hal tersebut terjadi jika daerah tersebut dulunya memiliki banyak bahan organik.
"Kemudian ketika terjadi pematangan, mengeluarkan gas karbonnya baru sekarang," ungkapnya.
"Lama-lama bisa terakumulasi dan baru muncul ke permukaan," imbuhnya.
Akan tetapi, Rahayu menilai kemungkinan besar fenomena tersebut terjadi karena gesekan lempeng tanah.
Baca: Misteri Suku Pedalaman Amazon Hidup Tanpa Pria tapi Bisa Hamil dan Lahirkan Anak, Lakukan Cara Aneh
Baca: Yogyakarta Bakal Alami Equinox, Hari Tanpa Bayangan 13 Oktober 2019, Ini Penjelasan Fenomenanya