Namun, Sumarjo tetap bersemangat menawarkan dagangannya.
"Daun kelor, daun kelor," ujarnya lirih.
Tawarannya itu membuahkan hasil.
Seorang pria paruh baya memborong 10 bungkus.
Saat momen itulah senyum Sumarjo lahir, senyum teduh seorang kakek yang memimpikan tanah suci.
"Saya jualan untuk naik haji, tiga tahun lagi berangkat," katanya dikutip dari Tribunjateng.com.
Baca: Gara-gara Cekcok Enggan Melayat, Pria Ini Tikam Istri dan Ibu Mertua, Langsung Tewas Bersimbah Darah
Baca: KISAH VIRAL Mbah Sri, Setiap Hari Tempuh 180 KM demi Jualan Pisang di Pasar Gede Solo
Sebelum zuhur Sumarjo berjualan di depan masjid.
Setelah zuhur dia baru pindah ke dalam komplek rumah ibadah dekat Simpang Lima ini.
Setiap hari Mbah Marjo berangkat dari rumah cucunya di Jalan Pandansari 1, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, sekitar pukul 09.30.
"Saya sampai masjid jam 10 pagi diantarkan cucu.
Nanti pulang jam 5 sore, naik ojek minta dipesankan orang," paparnya.
Kondisi indera pendengaran Sumarjo sudah menurun sehingga ketika berbincang harus berdekatan.
Tak jarang pembeli menaikkan intonasi suara agar Mbah Marjo bisa mendengarnya.
"Sehari saya bawa 60 bungkus.
Kadang 70 bungkus, pernah juga 80 bungkus.
Tidak pasti, biasanya selalu habis," jelas kakek yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Dari berjualan daun kelor, dia mengantongi uang Rp 1 juta per bulan.
Menurutnya, jumlah itu merupakan keuntungan kotor karena harus mengganti modal belanja ramuan herbal daun kelor.
"Setiap bungkus terjual, saya untung saya Rp 1.500. Setiap keuntungan itu saya tabung buat naik haji," jelas dia.
Sumarjo sudah setahun berjualan di kawasan Masjid Baiturrahman.