Pemberian gelar dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan disaksikan perwakilan keraton-keraton dan kesultanan di Indonesia.
Gelar raja tersebut, akunya, diberikan Ketua Forum Komunikasi Raja-Raja dan Sultan Nusantara Tahun 2015 yang juga merupakan kepala budaya TMII, Maskut Thoyib.
Baca: Pidato Pertama Harry Setelah Mundur dari Kerajaan Inggris: Tak Ada Pilihan Lain
Baca: Ternyata Ini yang Dilakukan Pimpinan Keraton Agung Sejagat agar Bisa Rekrut Ratusan Pengikut
Ia juga tidak setuju jika Kerajaan Kandang Wesi disamakan dengan Keraton Agung Sejagat.
Nurseno menegaskan dirinya hanya mendirikan padepokan silat, bukan kerajaan.
Hanya saja lokasi padepokan tersebut didirikan di daerah yang menurut sejarah pernah menjadi Kerajaan Kandang Wesi.
"Saya hanya jadi pemangku adat saja, untuk menjaga budaya yang ada," ungkapnya.
Menurut Kepala Kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Garut Wahyudidjaya, Kerajaan Kandang Wesi sendiri, sepengetahuannya dari sejarah yang dibaca memang sempat ada.
Kerajaan Kandang Wesi ini lahir pasca-Kerajaan Padjadjaran runtuh dan merupakan gabungan kerajaan-kerajaan kecil di bawah Kerajaan Padjadjaran.
“Pada masa Kerajaan Padjadjaran, Kandang Wesi ini daerah tempat melatih prajurit-prajurit tangguh dan tempat pembuatan senjata,” katanya.