Tolak Dakwaan Lakukan Genosida Etnis Rohingya, Aung San Suu Kyi Di Bawah Pengaruh Militer?

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi resmi menolak dakwaan Mahkamah Internasional perihal tuduhan genosida etnis Rohingya.

Keputusan yang ia ambil untuk memimpin delegasi Myanmar ke pengadilan internasional sempat mengagetkan banyak kalangan, termasuk pendukungnya sendiri.

Kontroversi Laporan Gambia

Sebelumnya, tim yang diutus Gambia sempat menimbulkan kontroversi lantaran memasang gambar Suu Kyi sedang tersenyum bersama Jendral Kyaw Swe, Letnan Jendral Ye Aung dan Letnan Jendral Sein Win, yang merupakan tiga petinggi militer, Myanmar.

Foto tersebut ditampilkan sebagai bukti kedekatan Suu Kyi dan terduga penjahat kemanusiaan / pelaku genosida.

Namun demikian, para pendukung Suu Kyi mengecam foto tersebut lantaran dianggap sebagai upaya merendahkan martabatnya.

Para pendukung Aung San Suu Kyi di depan Pengadilan Internasional memberi dukungan terhadapnya (Twitter Jurnalis Myanmar Pemenang Penghargaan: @cape_diamond)

Proses Pengadilan Internasional

Rangkaian proses pengadilan internasional berlangsung selama tiga hari sejak Selasa (10/12/2019).

Pada hari pertama, Su Kyi hanya mendengar gugatan Gambia dan baru diberi kesempatan bersuara di hari kedua pengadilan.

Menjadi Tontonan Ratusan Ribu Warga Rohingya di Pengungsian

Saat Aung San Suu Kyi bersiap menghadapi persidangan internasional PBB, terdapat ratusan ribu warga minoritas Rohingya di pengungsian yang menyaksikan.

Kasus Suu Kyi ini mendapat perhatian dari mereka yang saat ini tinggal di pengungsian di Negara Bangladesh, tetangga Myanmar.

Setidaknya terdapat sekiter 740.000 warga Rohingya yang terpaksa mengungsi ke kamp tersebut lantaran adanya pembantaian berdarah di negara bagian Rakhine, arah barat laut, Myanmar.

"Saya menuntut keadilan dari dunia," kata Nur Karima, seorang pengungsi Rohingya yang kehilangan saudara dan kakek-neneknya dalam pembantaian di desa Tula Toli pada Agustus 2017.

"Saya melihat para terpidana berjalan ke tiang gantungan. Mereka membunuh kami tanpa ampun," ujar Saida Khatun, seorang pengungsi lain dari Tula Toli.

Dilaporkan pada tahun lalu, penyelidik dari PBB telah menyatakan bahwa apa yang dilakukan terhadap etnis Rohingya adalah bentuk genosida.

"Suu Kyi tidak dapat menyangkal apa pun. Komunitas internasional harus mendengarkan suara kami karena kami adalah korban yang sebenarnya," ujar Sayed Ulla, seorang pemimpin Rohingya yang juga tinggal di salah satu kamp pengungsian di Bangladesh.

Kedatangan Aung San Suu Kyi

Sebelumnya, Aung San Suu Kyi resmi tiba di Pengadilan Internasional Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Den Haag, Belanda, Selasa (10/12/2019) waktu setempat.

Kedatangan Aung San Suu Kyi dijadwalkan untuk membela negara Myanmar dari tuduhan genosida terhadap minoritas muslim Rohingya.

Peraih nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi ini diperkirakan akan mengulangi pernyataan menolak tuduhan adanya genosida tersebut.

Halaman
123


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer