Keluarga mendukung
Baca: Sikap dan Sifat Tiap Zodiak yang Dapat Jadi Pemicu Gangguan Mental, Cegah Sebelum Terjadi!
Baca: Kim Dongwan Shinwa Berbicara Penanganan Kesehatan Mental di Industri Hiburan
Ketakutan Ariel ternyata terbantahkan.
Setelah dirinya memberitahu tentang penyakit mental yang diderita kepada keluarga, Ariel justru mendapat dukungan penuh.
Bahkan sang papa, Rico Murry yang awalnya tak menerima justru melakukan penelitian kecil untuk lebih bisa memahami penyakut mental yang diderita sang putri.
"Ternyata pas gue kasih tahu, keluarga, terutama circle terkecil gue sangat support banget sih," kata Ariel.
"Bokap gue malah orangnya lebih gak percaya lagi sama hal-hal kayak gitu," ungkapnya.
"Mikirnya kayak enggak lah, itu cuma stres biasa," imbuhnya.
"Tapi begitu dia tahu tentang kondisi gue, dia banyak melakukan penelitian," lanjutnya.
"Dia juga jadi lebih mau mengetahui dan coba mencari tahu lebih dalam lagi seputar kesehatan mental," pungkasnya.
Dikutip dari Tribunnews.com, berikut adalah beberapa informasi mengenai Borderline Personality Disorder (BPD) atau kepribadian ambang.
Kepribadian Ambang adalah gangguan kesehatan mental yang berdampak pada cara penderita berpikir dan merasakan tentang dirinya sendiri dan orang lain.
Hal tersebut termasuk masalah citra diri, kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku, dan pola hubungan yang tidak stabil.
Penderita Kepribadian Ambang biasanya akan merasa takut diabaikan dan tidak bisa melakukan banyak hal sendirian.
Gangguan kepribadian ambang biasanya dimulai pada awal masa dewasa.
Kondisi tersebut kemudian semakin memburuk di usia dewasa muda.
Meskipun demikian kondisi penderita Kepribadian Ambang bisa membaik secara bertahap seiring bertambahnya usia.
Tanda dan gejala kepribadian ambang
Baca: Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day)
Baca: 7 Sisi Gelap Industri KPOP yang Mengancam Sang Idol, Bergaji Kecil, Utang, Hingga Gangguan Mental
Melansir dari Mayo Clinic, tanda dan gejala yang mungkin terjadi pada penderita kepribadian ambang diantaranya:
- ketakutan yang kuat akan diabaikan, bahkan melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan yang nyata ataupun hanya imajinasi,
- pola hubungan intens yang tidak stabil, seperti kerap kali mengidealkan seseorang dan kemudian tiba-tiba percaya bahwa orang itu tidak cukup peduli atau kejam,
- perubahan cepat dalam identitas diri dan citra diri yang mencakup perubahan tujuan dan nilai-nilai, dan melihat dirinya sendiri buruk atau seolah-olah tidak ada sama sekali,
- periode paranoia yang berhubungan dengan stres dan hilangnya kontak dengan kenyataan, berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam,
- perilaku impulsif dan berisiko, misalnya menyabotase kesuksesan dengan tiba-tiba berhenti dari pekerjaan yang bagus atau mengakhiri hubungan yang positif,
- ancaman bunuh diri atau perilaku cedera diri, sering kali sebagai respons terhadap rasa takut akan perpisahan atau penolakan,
- perubahan suasana hati yang berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari,
- perasaan hampa yang berkelanjutan
- kemarahan yang intens dan tidak jelas, seperti sering kehilangan kesabaran, bersikap sarkastik dan sengit, atau bertengkar secara fisik.