Ingin Sejahterakan Guru Honorer di Sumut, Edy Rahmayadi Ungkap Butuh Dana hingga Rp 400 Miliar

Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat ditemui usai melaksanakan rapat Paripurna bersama DPRD Sumut, di Gedung Dewan, Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Selasa (9/7/2019) sore.

Gaji yang sangat sedikit itupun diterima setiap tiga bulan sekali.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari banyak hal yang ia lakoni.

Salah satunya adalah dengan menjadi "hantu" sejak sepuluh tahun belakangan.

Ia berperan sebagai hantu penghibur dalam rombongan keyboard (organ tunggal) yang sering diundang pada pesta khitanan atau pernikahan di kampung-kampung.

Di Kabupaten Serdangbedagai, hiburan ini sering dikenal sebagai Keyboard Mak Lampir.

"Gaji cuma Rp 700 ribu per bulan, ya harus pintar-pintarlah cari tambahan. Job-nya itulah, jadi sundel bolong atau pocong.

Baca: Derita Guru Honorer Asal Pandeglang, Tidur di WC Sekolah Karena Gaji Tak Cukup untuk Sewa Rumah

Baca: Ini Sejarah Hari Guru Nasional di Indonesia yang Jatuh pada Hari Senin Pekan Depan

Nge-job-nya sama kawan-kawan dan sebulan minimal bisa tampil empat sampai enam kali."

"Sekali tampil bisa bergaji Rp100 ribu sampai Rp 125 ribu per orang tergantung jauh dekatnya lokasi acara," kata Musri Senin, (25/11/2019).

Musri yang mengaku merias diri sendiri untuk keperluan manggung ini telah menghibur bersama kelompoknya sampai ke Balam Pekanbaru.

Ia mengaku tidak malu melakoni pekerjaan itu.

Meski terkadang merasa profesinya sebagai guru sangat jauh dari pekerjaan sebagai penghibur Keyboard Mak Lampir, namun demi sesuap nasi ia siap untuk melakukannya.

Baca: Deretan Ucapan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2019, Bisa Dikirim ke Guru atau Status Medsos

Musri yang tinggal di Desa Kesatuan, Kecamatan Perbaungan, ini juga merasa pekerjaan sampingannya ini berguna karena dapat menghibur orang lain.

"Terkadang saya pun ikut nyanyi di keyboard.

Tapi jaranglah karena lebih banyak job jadi hantu.

Walaupun pulang jadi hantu malam tapi saya usahakan jangan sampai mengganggu kerjaan jadi guru.

Job jadi hantu itu biasanya Sabtu dan Minggu."

"Kadang kalau tidak ada job jadi hantu ya jadi badut.

Lumayan juga bisa dapat Rp150 ribu sekali manggung.

Aku enggak mencuri jadi enggak perlu malu karena aku menganggap apa yang kulakukan ini hanya sebatas menghibur dan membuat orang ketawa saja," kata Musri.

Baca: Lirik Hymne Guru Ciptaan Sartono, Cocok Dinyanyikan Saat Peringatan Hari Guru Nasional 25 November

Musri mengaku belum tahu sampai kapan pekerjaan sebagai penghibur akan ia jalani.

Halaman
123


Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer