Masih Dianggap Sebelah Mata saat Lajang? Yuk, Kenali Konsep Berpasangan dengan Diri Sendiri

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Berpasangan dengan diri sendiri sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Beberapa pengamat mengungkapkan adanya tren baru yang sedang tumbuh. (Gambar Ilustrasi)

Hasil kajian dari sebuah badan penelkitian bisnis dan konsumen (IORMA) di Inggris mengungkap bahwa rumah tangga tunggal atau hunian banyak ditinggali oleh seorang lajang.

Angkanya mencapai 330 juta pada tahun 2016 di seluruh dunia.

Nominal tersebut setara dengan 16 persen rumah tangga di seluruh dunia.

Perlu diketahui pula bahwa angka ini meningkat 50 persen apabila dibandingan pada tahun 2001.

Kendati hadirnya tren ini bukanlah jawaban dari munculnya fenomena 'berpasangan dengan diri sendiri', namun kecenderungan tersebut tetap menjadi faktor yang mempengaruhi.

Seorang penulis buku The Rising Acceptance and Celebration of Solo Living, Elyakim Kislev, mengungkapkan bahwa menjadi lajang adalah sebuah tren yang terbentuk akibat faktor ekonomi, budaya, dan hubungan sosial antarmasyarakat.

"Pada dasarnya, kita saat ini memiliki sumber daya lebih besar untuk mencari peluang dan mengalami mobilitas ekonomi. Kita juga tidak ingin terikat pada suatu hal," ujar Kislev kepada BBC.

"Kita pun lebih mendambakan privasi dan waktu untuk mengembangkan diri. Kita tak mengincar stabilitas dan 'hidup nyaman di daerah suburban' lagi," tambahnya.

Elyakim Kislev mengidentifikasi sebuah relasi yang kuat antara pilihan melajang dan posisi perempuan yang makin kuat di masyarakat.

Pernikahan Bukan Prioritas Utama

Senada dengan Elyakim, seorang psikolog ilmu sosial dari University of California, Bella DePaulo menyatakan bahwa perempuan seringkali diyakinkan untuk menikah dan dinilai hancur apabila tidak melakukannya.

"Perempuan adalah orang-orang yang diyakinkan untuk menikah atau hancur jika tidak melakukannya," kata Bella DePaulo.

Selain menyoroti ihwal kehidupan melajang, DePaulo juga melihat adanya perubahan pandangan terhadap rumah tangga.

"Kita berfantasi tentang membangun sarang yang dapat kita bagi bersama pasangan dan anak, tanpa tahu hal yang akan terjadi sebaliknya," ujar DePaulo.

Survei tahun 2018 yang dilakukan DePaulo mengacu pada risetnya pada perusahaan pencarian jodoh digital.

Dalam surveinya, ia menemukan fakta bahwa sekitar hanya 20 persen perempuan yang menempatkan pernikahan sebagai prioritas utama.

Menurut DePaulo, menikah adalah pilihan terakhir setelah pilihan melajang, membangun karier, dan keamanan finansial.

DePaulo juga melihat tren berlawanan arah bahwa angka pernikahan, pada faktanya, terus menurun di seluruh dunia.

Di antara para perempuan dalam usia produktif (15-49 tahun) pada tahun 1970, 31% di antaranya tidak menikah atau berpasangan.

Tahun 2010, persentase itu meningkat menjadi 36%.

Halaman
1234


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer