Haikal Hassan merasa selama ini pemerintah tidak pernah menganggap separatism sebagai ancaman.
Haikal memberi contoh kasus yang ada di Wamena, ia menyebut peristiwa itu merupakan ancaman.
“Yang disebut-sebut terus masjid radikal, ustad radikal,” terangnya.
Baca: Ayah Dylan Carr Kabarkan Kondisi Terkini Putranya, Sebut Ia Alami Pembengkakan Otak dan Dibuat Koma
Seusai pernyataan itu, Haikal Hassan kembali menegaskan tanggapannya terhadap Indonesia menangis dan tertawa, adalah fokus pada yang benar.
Haikal Hassan mengatakan pemerintah seharusnya bukan fokus pada radikalisme, melainkan ekonomi.
“Karena kata yang paling top di jaman Jokowi adalah radikalisme,” Haikal Hassan beralasan.
Pada Indonesia Lawyers club edisi itu hadir berbagai tokoh dengan latar belakang beragam.
Undangan dari kalangan partai, turut hadir Kapitra Ampera, politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.
Adapun perwakilan Partai Hanura, hadir Inas Nasrullah Zubair.
Fadli Zon dan Akbar Faizal juga ikut meramaikan diskusi, membahas Kabinet Jokowi Indonesia Maju.
Masing-masing sebagai wakil ketua umum Gerindra dan politisi partai Nasional Demokrat (Nasdem).
Beberapa pakar dan pengamat juga hadir di sana.
Baca: Jenderal Purn Fachrul Razi Beberkan Alasan Jokowi Memilihnya Jadi Menteri Agama: Isu Ustadz Radikal
Baca: Meninggal Akibat Infeksi Otak, Inilah Perjalanan Karier Alfin Lestaluhu Bersama Timnas U-16
Agus Pambagio selaku pengamat kebijakan publik, professor Effendi Ghazali mewakili pakar komunikasi politik, serta Hendri Satrio sebagai pengamat khusus politik.
Perwakilan kemeterian diwakili Menteri Politik Hukum dan HAM, Mahfud MD, juga Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII.
Tak ketinggalan, kalangan pers ikut mewarnai diskusi dengan datangnya seorang wartawan senior, Bambang Harimurti.
Baca: Bek Timnas U-16 Indonesia Alfin Lestaluhu Meninggal karena Enchephalitis, Ini Keterangan Dokter
Baca: Tak Hanya Menteri, Toyota Crown 2.5 HV G-Executive Ternyata Juga Dipakai Pimpinan MPR, DPR, dan DPD
Hadir pula mantan Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presidenan, Ali Mochtar Ngabalin.
Turut memberikan suara, Profesor Haji Salim Said hadir sebagai guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan.