Typhoon Hagibis datang disertai hujan lebat ketika masyarakat mulai dievakuasi.
Selain Typhoon Hagibis, gempa berkekuatan 5,7 juga melanda wilayah Kanto, Jepang sekitar pukul 18.22 waktu setempat.
Dikutip dari Japan Times, gempa tersebut mengguncang wilayah Prefektur Chiba di sore hari.
Namun tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.
Pada Sabtu (11/10/2019) sore, sebelum Typhoon menghantam, dilaporkan sebuah truk terbalik dan menewaskan seorang pria di Chiba.
Baca: Typhoon Hagibis Bergerak ke Jepang, Satu Orang Tewas 4 Orang Terluka
Badan Meteorologi Jepang mengungkapkan pada Sabtu (11/10/2019) sore, angin yang berkelanjutan dari typhoon telah diukur sekitar 100 mil per jam dengan hembusan hingga 135 mph.
Badai itu diproyeksikan akan mendarat Sabtu (11/10/2019) malam di Semenanjung Izu, barat daya Tokyo.
Pada Jumat (10/10/2019), Badan Meteorologi Jepang juga memperingatkan bahwa Typhoon Hagibis dapat menyaingi Typhoon Kanogawa tahun 1958.
Kala itu, Typhoon Kanogawa menewaskan lebih dari 1.200 orang di Prefektur Shizuoka dan wilayah Tokyo.
Dikutip dari News York Times, Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan hujan ekstrem untuk prefektur Shizuoka, Kanagawa, Tokyo, Saitama, Gunma, Yamanashi dan Nagano.
Baca: Topan Hagibis Melanda Jepang, Piala Dunia Rugby dan Grand Prix F1 Jepang Ditunda
Warga didesak untuk mengungsi atau pindah ke lantai yang lebih tinggi di bangunan kokoh terdekat.
Tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Sagamihara, pinggiran kota di luar Tokyo.
Tingkat air di dekat 30 sungai, di prefektur termasuk Tokyo, Kanagawa, Gunma dan Shizuoka sudah dianggap berbahaya oleh badan meteorologi.
Tokyo Electric Power Company mengatakan bahwa 30.800 rumah tangga tanpa listrik.
Badan cuaca mengatakan wilayah tenggara Tokai dapat menerima sebanyak 31 inci hujan dalam periode 24 jam.
Baca: Typhoon Hagibis Diperkirakan Landa Jepang, Kereta Api dan Seluruh Penerbangan Dihentikan Sementara
Ketika Typhoon Hagibis mendekat di minggu ini, pada satu titik setara dengan badai Kategori 5.
Kecepatan angin yang mencapai160 mph membuat Pemerintah Jepang bersiap untuk bencana yang akan melanda.
Sekitar 1,5 juta orang hidup di bawah permukaan laut di bagian timur Tokyo dan ahli meteorologi memperingatkan bahwa sebanyak lima juta orang mungkin perlu dievakuasi jika air membanjiri tanggul di daerah dataran rendah.
Pada Sabtu (11/10/2019) sore, NHK melaporkan bahwa pemerintah daerah telah bersiap untuk mengevakuasi lebih dari 10 juta orang.