Dikutip Tribunnewswiki dari Tribun Jateng, fenomena tersebut terjadi pada Selasa 1 Oktober 2019 saat matahari dikelilingi oleh pelangi yang membentuk seperti cicin.
Matahari bercincin pelangi tersebut dapat dilihat oleh warga Kudus dengan jelas karena cuaca yang cukup cerah.
Mengetahui hal tersebut, warga berbondong-bondong mengabadikan fenomena tersebut menggunakan kamera ponsel.
Fenomena matahari bercincin pelangi tersebut dinamakan Halo Matahari atau Solar Halo dan beberapa orang menyebutnya sebagan Sun Halo.
Baca: Dari Hujan Meteor sampai Gerhana Matahari Cincin, Ini 4 Fenomena Langit di Akhir Tahun 2019
Dikutip dari Earthsky.com pada Selasa (1/10/2019), para ilmuan menyebut fenomena adanya cahaya yang mengelilingi matahari maupun bulan sebagai 22-degree halos.
Hal tersebut dikarenakan lingkaran cincin yang mengelilingi matahari maupun bulan memiliki radius rata-rata sebesar 22 derajat.
Beberapa penduduk dunia memiliki mitos seputar fenomena halo matahari.
Diantaranya sebagai pertanda akan turun hujan atau sebaliknya menjadi pertanda datangnya musim kemarau.
Anggapan tersebut tentu saja tidak dibenarkan secara ilmiah.
Halo matahari terjadi adannya awan cirrus sekitar 20 ribu kaki atau 7 ribu meter lebih diatas permukaan bumi melintas di daerah yang mengalami fenomena tersebut.
Awan cirrus adalah jenis awan yang tipis dan paling tinggi letaknya di antara jenis awan lain.
Awan tersebut mengandung jutaan kristal kecil es yang dapat membiaskan cahaya matahari menjadi warna-warna indah sehingga terbentuk pelangi.
Karena merupakan pembiasan cahaya, halo matahari bersifat reflektif.
Hal tersebut berarti setiap orang yang melihat fenomena halo matahari tidak selalu sama, tergantung dari mana seseorang tersebut berdiri.
Perhatikan beberapa detail halo matahari berikut!
Halo matahari akan lebih mudah dilihat dengan jelas daripada halo bulan.
Pada halo bulan, halo akan terlihat sedikit samar karena cahaya bulan tidak lebih terang daripada matahari.