Menjelang meletusnya tragedi G30S 1965 meletus, Sjam sempat sesumbar kepada Hamim.
Dia sangat yakin, semua akan berjalan aman dan revolusi akan berhasil karena Sjam merasa telah menguasai militer.
"Bung enggak usah takut, kita sudah punya tentara. Dengan tentara, kita bisa berbuat apa saja," kata Sjam kepada Hamim.
Baca: G30S 1965 - Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi di Palu, Sulawesi Tengah
Namun saat itu Hamim merasa PKI belum siap untuk melancarkan revolusi.
Menurut Sjam, dengan kondisi saat itu, PKI hanya siap melancarkan demonstrasi, rapat umum, menuntut upah, dan melawan revolusi, tidak untuk berperang.
“Bung belum bertempur, sudah takut!” Sjam marah mendengar sikap Hamim.
Selain Hamim, Suswandi juga menentang usul Sjam. Namun tidak dengan Pono dan Bono.
Di mata Hamim, Sjam adalah orang yang sombong dan tak mau belajar teori.
Baca: Ketika Air Mata Bung Karno Jatuh saat Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S
Sjam terlalu bangga dengan pengalamannya di Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran Tanjung Priok.
Dia juga pernah menyelamatkan Aidit hingga menjadi pengawal orang nomor satu di PKI itu.
“Sjam itu sombong dan enggak mau belajar teori. Dia bercerita pernah kerja di Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran Tanjung Priok. Dia pernah menyelamatkan Aidit lalu disuruh mengawal Aidit. Dia sobat kental Aidit,” kata Hamim.
Namun akhirnya G30S meletus, meski sampai sekarang tidak jelas siapa dalang di balik tragedi berdarah itu sebenarnya.
Namun yang pasti, apa yang dikhawatirkan oleh Hamim jadi kenyataan.
PKI mati.