Mengenang Moses Gatotkaca, Mahasiswa yang Terlibat Tragedi Gejayan 1988 Yogyakarta

Penulis: saradita oktaviani
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Jalan Gejayan saat Reformasi 1998 (Gary Dean okusiassociates.com)

Dia ingat, peristiwa tersebut membuat orangtuanya tidak mengantarkan Eka bersekolah selama beberapa hari, dan memilih berdiam di rumah.

“Yak arena takut. Takut ada korban salah sasaran lagi. Tapi setelah semua kondusif, saya diantarkan ke sekolah lagi,” tutur Eka.

Kesaksian Johanes Eka Priyatma, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) kala itu, saat peristiwa 1998 di Gejayan, dirinya telah menjabat sebagai dosen kampus.

Masih diingatnya saat Moses dikeroyok oleh aparat, sebelumnya terjadi aksi demonstrasi yang ricuh, dan berujung pelemparan batu, hingga pengejaran mahasiswa oleh aparat.

“Saat Moses meninggal, saya masih ingat, civitas akademika Sanata Dharma memberikan perhatian. Kami ikut melayat,” jelasnya.

Eka memandang, Moses merupakan ikon perjuangan menjadikan proses demokrasi yang lebih baik di Indonesia.

Dia pun berpendapat bahwa meninggalnya Moses bukan hal yang sia-sia.

Dengan dijadikannya nama Moses Gatotkaca sebagai nama jalan di tempat dia dikeroyok, diharapkannya dapat menjadi penanda.

“Penanda bahwa di tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah perjuangan demokrasi. Dengan dipakainya nama Moses sebagai nama jalan, itu bentuk penghargaan yang elegan dan mulia,” katanya.

Diberitakan Kompas.com 8 Mei 2019, sejumlah mahasiswa di Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden pada Mei 1998.

Bukan karena itu saja, perekonomian Indonesia yang semakin buruk juga menjadi faktor tambahan pemicu aksi unjuk rasa tersebut.

Aksi tersebut tidak berjalan damai, hingga akhirnya berujung dengan bentrokan.

Salah satunya yang terjadi di Gejayan, Yogyakarta pada 8 Mei 1998.

Jalan Gejayan saat Reformasi 1998 (Gary Dean okusiassociates.com) (Gary Dean okusiassociates.com)

Peristiwa tersebut dikenal dengan Peristiwa Gejayan atau Tragedi Yogyakarta yang mengakibatkan ratusan orang luka-luka dan satu orang tewas dari mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD) bernama Moses Gatotkaca.

Saat itu, para mahasiswa USD melakukan aksinya di halaman kampus.

Moses ditemukan telah tergeletak oleh seorang mahasiswa di sekitar Posko PMI di Sanata Dharma.

Ia meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panti Rapih.

Menurut dokter yang memeriksa, Moses mengalami perdarahan di telinga akibat pukulan benda tumpul.

Selain mahasiswa USD, mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan mahasiswa IKIP Negeri Yogyakarta (saat ini UNY) juga turut melakukan aksi demo yang berujung bentrokan.

Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 9 Mei 1998, hingga pukul 23.00 WIB pada 8 Mei 1998, Jalan Kolombo, Yogyakarta, masih memanas akibat bentrokan ribuan mahasiswa dan masyarakat dengan ratusan aparat keamanan, menyusul saling serang antara aparat dan para demonstran.

Halaman
123


Penulis: saradita oktaviani
Editor: Melia Istighfaroh
BERITA TERKAIT

Berita Populer