Sejak sang istri meninggal dunia, BJ Habibie rajin berziarah hampir setiap minggu.
Hal ini diungkapkan oleh Irwansyah, staf pengelola Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan pada Kamis (12/9/2019) kepada Kompas.com.
"Sering memang Bapak ke makam Ibu (Ainun), tiap hari Jumat. Tadinya 40 hari, 100 hari, eh ternyata terus-terusan," ujar Irwansyah.
"Itu saking sayangnya sama istrinya. Akhirnya ya tiap Jumat Bapak (Habibie) datang," imbuh dia.
Irwansyah yang telah bekerja selama 15 tahun di TMP Kalibata menjadi saksi, bagaimana BJ habibie terisak dan menangis, serta tetap setia kepada Ainun.
"Betul Bapak tiap pekan datang ke makam Ibu. Cuma kalau saat sakit saja Bapak enggak datang," kata Irwansyah. "Tapi ada yang isi takziah di makam Ibu, mungkin kalau enggak kerabat, stafnya, ya Paspampres. Sepekan sekali. Tetap ada," ia menegaskan.
Ilham Akbar Habibie, anak sulung BJ Habibie, mengamini pernyataan Irwansyah.
Habibie, kenang si sulung, selalu mengupayakan ziarah ke pusara istrinya tiap pekan.
"Kalau berkunjung ke kuburan saya kira itu juga sebisanya setiap minggu. Hari Jumat misalnya. Tapi kadang kalau Bapak lagi di Jerman susah," kata Ilham, Kamis.
Menurut Irwansyah, BJ Habibie selalu melempar senyum saat ia dan rombongan datang berziarah.
"Bapak kan baik, ramah senyumnya, murah senyum. Sekilas saja kita lihat Bapak tuh begitu," kata dia.
Selain itu, BJ Habibie sesekali meladeni warga yang ingin berfoto dengannya.
Irwansyah juga mengingat, adanya bunga sedap malam yang selalu ia antarkan ke pusara sang istri.
Sehingga, saat berjaga di TMP Kalibata, Irwansyah sering mencium aroma bunga sedap malam usai BJ Habibie berziarah.
"Saya sih memang lihat begitu, di makam (Ainun) selalu ada sedap malam dan melati. Artinya apa, ya kita enggak tahu," kenang Irwansyah.
"Sedap malam kan wangi, kalau malam kan enak tuh harum banget. Saya termasuk yang nikmatin juga," kata dia.
Mendiang BJ Habibie rupanya bukan hanya sosok yang cerdas, tetapi juga romantis.
Salah satu sisi romantis BJ Habibie terlihat ketika ia membuatkan puisi kepada Ainun.
Puisi berjudul Seribu ditulis pada peringatan 1.000 hari kepergian Ainun.