PB Djarum Hentikan Audisi Beasiswa Tahun 2020, Kak Seto: Kayak Anak Kecil yang Sedang Ngambek

Penulis: Abdurrahman Al Farid
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kak Seto komentari keputusan PB Djarum dan dukung KPAI.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - PB Djarum baru saja mengumumkan akan menghentikan audisi beasiswa bulutangkis di tahun 2020.

Hal tersebut lantaran PB Djarum telah disebut mengeksploitasi anak oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Kabar tentang penghentian PB Djarum untuk audisi umu beasiswa bulu tangkis di tahun depan tersebut sontak menjadi pembicaraan publik.

Banyak yang tak setuju jika PB Djarum menghentikan audisi beasiswa mereka dan menghujat pihak KPAI.

Namun lain halnya dengan Seto Mulyadi selaku pemerhati anak, dirinya menganggap bahwa KPAI sudah benar.

Baca: Terkait PB Djarum, KPAI: Tidak Tebersit Niat untuk Menghentikan Audisi

Baca: PB Djarum Hentikan Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Mulai 2020, KPAI Beri Tanggapan

Dilansir oleh Kompas.com pada Senin (9/9/2019), Kak Seto menyebut bahwa keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi beasiswa mereka tersebut seperti seorang anak kecil yang sedang ngambek.

"Saya melihat ini kok kayak anak kecil yang sedang ngambek," kata Seto Mulyadi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (8/9/2019) malam.

Ketua Lembaga Anak Indonesia (LPAI) yang akrab disapa Kak Seto tersebut mengatakan, apa yang dilakukan oleh KPAI adalah hal yang perlu dibenarkan.

Menurutnya, yang dilakukan oleh KPAI adalah hanya menunjuk peraturan soal larangan eksploitasi anak melalui iklan merek Djarum.

Peserta Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu tangkis. (Dok. PB Djarum)

Hal tersebut karena Djarum merupakan hal yang identik dengan produk rokok.

Kak Seto menjelaskan bahwa selama ini KPAI tak melarang audisinya.

Ia mengungkapkan, Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 telah tertulis bahwa rokok merupakan zat adiktif yang berbahaya.

Ia juga mempertanyakan soal kesungguhan dari PB Djarum dalam menghasilkan bibit unggul bulutangkis.

"Lha terus kemurniannya dan ketulusannya bagaimana untuk membina anak-anak? Bila memang serius, seharusnya tidak menghentikan audisi dengan alasan iklan tersebut," lanjutnya.

Ia menegaskan, yang sebenarnya menjadi masalah adalah brand image.

Walaupun anak-anak yang mengikuti dan kemudian lolos audisi tetap dilarang merokok, namun tetap terbangun citra buruk.

"Bahwa di balik audisi yang bersejarah dan menghasilkan pemain-pemain dunia adalah rokok," paparnya.

Menurutnya, para peserta yang lolos seleksi pada audisi di PB Djarum dan menjadi pemain bulutangkis profesional, nantinya akan timbul kontradiktif.

Misalnya adalah ungkapan,

"Waduh saya berutang budi pada rokok, waduh saya harus membeli rokok".

Halaman
12


Penulis: Abdurrahman Al Farid
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer