Kendati demikian, Levi mengaku bahwa Resti sendiri yang menyebut punya firasat tak enak sejak satu minggu lalu.
Tak disangka, firasat korban itu pun menjadi kenyataan yakni Resti diduga dibunuh secara sadis dan jasadnya diletakkan di dalam lemari.
"Saya bilang (ke korban) 'udah kau pindah kos atau pindah ke rumah tante aja'. (Kata korban) 'enggak lah, itu mungkin firasat Resti aja atau sebatas orang iri aja'," ujar Levi.
Lebih lanjut diungkap Levi, sebenarnya satu hari sebelum dugaan pembunuhan, korban sempat ingin main ke rumahnya.
Namun entah kenapa malam itu yakni 24 September 2024 korban mengurungkan niatannya.
Sehari sebelum tewas juga korban mengaku sempat kedatangan tamu ke kosannya.
"Itu rencananya malam itu (sehari sebelum pembunuhan) dia (korban) mau ke rumah saya, jam 10 dia hubungi saya 'Resti mau ke rumah tante'."
"Setelah itu lima menit setelah itu dia telepon lagi 'te, enggak jadi lah Resti ke sana, ada orang mau datang, tamu mau datang'. Itu komunikasi terakhir," kata Levi.
Setelah dari komunikasi terakhir itu, perasaan Levi tak enak tentang anak angkatnya.
Levi akhirnya mencoba menghubungi Resti berkali-kali, namun tidak ada respon.
Levi pun berusaha menghubungi keluarga kandung dan teman-teman Resti.
Namun mereka juga tak berhasil berkomunikasi dengan Resti.
Hingga akhirnya Levi mendapatkan kabar dari teman korban bahwa Resti ditemukan tak bernyawa di dalam kamar kosan.
"Jam 6 pagi (di hari penemuan jasad) saya coba ping, enggak masuk. Jam berapa itu saya telepon, ada tulisan 'nomor ini tidak terdaftar lagi di WA Anda'," pungkas Levi.
Ismed Kaisar (58) ayah dari Resti Windi wanita yang tewas di dalam lemari indekos mengaku sempat berfirasat tidak enak terhadap anaknya sebelum diketahui meninggal dunia.
Ismed warga Kampung Nengger, Desa Batu Kuwung, Kecamatan Padang Rincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten datang ke Jambi karena mendapatkan kabar duka.
"Sebelum anak saya meninggal dunia, sempat ada firasat namun saya hiraukan saja," kata Ismed di Mapolasek Jambi Selatan, Jumat, (27/9).
Curhat Resti ke keluarga
Ismed Kaisar (58) ayah dari Resti Windi wanita yang tewas di dalam lemari indekos mengaku sempat berfirasat tidak enak terhadap anaknya sebelum diketahui meninggal dunia.
Ismed warga Kampung Nengger, Desa Batu Kuwung, Kecamatan Padang Rincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten datang ke Jambi karena mendapatkan kabar duka.
"Sebelum anak saya meninggal dunia, sempat ada firasat namun saya hiraukan saja," kata Ismed di Mapolasek Jambi Selatan, Jumat, (27/9).
Ismed menjelaskan, firasat tersebut seperti ada burung masuk ke kamar di kampung halaman pada satu pekan sebelum kejadian. Tidak lama kemudian dia langsung mendapatkan kabar anaknya meninggal dunia.
"Salah satu firasat tersebut seperti burung datang masuk kekamar rumah di kampung halaman Banten dan setelah itu pergi lagi," jelasnya.
Firasat lain juga didapat ayah korban seperti adanya komunikasi aneh dari korban seperti WhatsApp dengan adik kandung korban lagi pusing dengan bahasa singkat tersebut, ia sudah punya firasat aneh.
"Tidak hanya itu, sebelumnya juga almarhum anak saya ada komunikasi kepada keluarga di Banten seperti ia ada kena ancam," tuturnya.
Begitu juga dengan adik Widia, Daia Salsabila, 20 tahun yang datang ke Kota Jambi menemani ayah kandungnya mengatakan, satu hari sebelum meninggal ia sempat berkomunikasi singkat lewat WhatsApp dengan kakak kandungnya yakni dihari selasa sore, 24 september 2024 hingga malam, sekitar pukul 19.30 WIB.
(tribunnewswiki.com/tribun network)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini