Sekretaris Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Hasto Kristiyanto menilai, Gibran Rakabuming Raka meniru sang ayah, Presiden Joko Widodo, karena memberi pertanyaan jebakan dalam debat cawapres.
Tak hanya ke Cak Imin, Gibran juga melontarkan pertanyaan jebakan soal teknologi carbon capture and storage kepada cawapres nomor urut 3 Mahfud MD.
Baca: Pantas IA Mahasiswa Unand Mesum dengan Adam di Masjid hingga Kepergok, Terungkap Penyebabnya
Dalam pertanyaannya, Gibran tak menjelaskan lebih jauh soal istilah atau singkatan tersebut.
Menurut Hasto, ini pernah dilakukan oleh Presiden Jokowi pada Pilpres 2014.
Trik Gibran itu, kata Hasto, pernah digunakan oleh Jokowi dalam debat capres pada Pilpres 2014 melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
"Ini kan suatu pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Pak Jokowi pada tahun 2014 ke Pak Prabowo dan Hatta," kata Hasto selepas debat cawapres, Jumat malam, dikutip dari Kompas.com.
Dalam debat capres 2014, Jokowi sempat bertanya ke Prabowo soal langkahnya meningkatkan peran TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah).
Namun, Jokowi tidak menjabarkan lebih jauh singkatan TPID.
Prabowo pun saat itu bertanya balik ke Jokowi soal kepanjangan TPID dan mengakui ia tidak hafal setiap singkatan.
Baca: PENYESALAN Devnisa Selingkuh dengan 3 Pria Sekaligus, Berujung 4 Anaknya Dihabisi Panca Darmansyah
Hasto berpandangan, pertanyaan-pertanyaan jebakan itu semestinya tidak ditanyakan dalam forum debat.
Menurut dia, Gibran seharusnya menjelaskan singkatan atau isitilah yang ia ditanyakan ke kandidat lain.
"Karena tujuan kita adalah untuk mencapai suatu gagasan yang terbaik dark para calon wakil presiden sebagai pendamping presiden di dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, politik anggaran, digitalisasi dan sebagainya," ujar Hasto.
Tanggapan Anies Baswedan
Capres nomor urut 1 Anies Baswedan menilai pertanyaan Gibran sah saja diajukan.
Namun, menurut dia, pertanyaan yang diajukan Gibran itu hanya terminologi teknis yang sebenarnya bisa dijawab hanya dengan browsing atau googling.
Padahal menurutnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah menyoroti substansinya.
"Jadi, ketika pertanyaan adalah soal terminologi teknis bisa dijawab dengan Google sebenarnya," kata Anies usai debat cawapres semalam.
Baca: Pantas Prabowo Spontan Bilang Ndasmu Etik, Petinggi Gerindra Sebut Sudah Hal yang Biasa
"Karena yang dibutuhkan di tingkat kepemimpinan nasional adalah hal-hal substantif. Ini yang sesungguhnya dibawa," imbuhnya.
Anies pun menyebut publik lah yang akan menilai mengenai pertanyaan itu, apakah semata hanya format cerdas untuk hafalan atau format adu gagasan.
"Tapi nanti publik menilai apakah memang ini format cerdas cermat untuk hafalan? Atau ini format tentang gagasan ideologi dan nilai yang diwujudkan dalam kebijakan?," pungkasnya.