Apa Itu Badai Matahari ? Badai yang Diramalkan Akan Terjadi di Akhir Tahun 2023

Para ahli memperingatkan, seperti dikutip dari Live Science, Rabu ((12/7/2023), fenomena badai Matahari berpotensi terjadi pada akhir tahun 2023.


zoom-inlihat foto
NASASDO60fAFPNASASDOAFPNASASDOAFP.jpg
NASA/SDO/AFP
Handout foto dirilis oleh Observatorium Bumi Nasa pada tanggal 7 Juni 2011 dan diambil dari Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA, bintik matahari kompleks 1226-1227, menunjukkan Matahari mengeluarkan jilatan api matahari M-2 (berukuran sedang), badai radiasi kelas S1 (kecil), dan lontaran massa koronal (CME) yang mengakibatkan awan besar partikel menjamur dan jatuh kembali ke bawah memberikan kesan menutupi area seluas hampir setengah permukaan matahari. Suar matahari yang tidak biasa yang diamati oleh observatorium luar angkasa NASA pada tanggal 7 Juni dapat menyebabkan beberapa gangguan pada komunikasi satelit dan listrik di Bumi pada sekitar hari berikutnya, kata para pejabat. Ledakan kuat dari Matahari menimbulkan badai radiasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak tahun 2006, dan kemungkinan akan menyebabkan aktivitas badai geomagnetik moderat pada hari Rabu, menurut Layanan Cuaca Nasional. FOTO AFP / HO / NASA


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Fenomena badai Matahari diprediksi dapat terjadi lebih cepat dari yang awalnya diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025.

Para ahli memperingatkan, seperti dikutip dari Live Science via Kompas, Rabu ((12/7/2023), fenomena badai Matahari berpotensi terjadi pada akhir tahun 2023.

Potensi ini terjadi beberapa tahun lebih cepat dari prediksi awal, bahkan diperkirakan dampaknya jauh lebih dahsyat.

Awalnya, para ilmuwan memperkirakan, siklus matahari saat ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Matahari merupakan bola gas yang 'hidup dan bernapas', yang terus aktif.

Seperti dari kebanyakan proses alami di Bumi, aktivitas Matahari bersifat siklus atau berulang dalam jangka waktu tertentu.

Para ilmuwan menyebut siklus ini sebagai 'siklus Matahari' atau solar cycle, dikutip dari situs resmi NASA Jet Propulsion Laboratory.

Baca: Mengenal Gerhana Bulan Penumbra yang Hiasi Langit Indonesia 5-6 Mei 2023

Lantas, apa itu badai Matahari?

Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, fenomena badai Matahari adalah lonjakan pelepasan energi Matahari melalui titik-titik tertentu karena terjadinya gangguan magnetik seiring tidak seragamnya kecepatan rotasi bagian-bagian permukaan Matahari dan antara permukaan dengan interior Matahari.

Ketidakseragaman kecepatan rotasi ini menyebabkan garis-garis gaya magnetik Matahari bisa saling berbelit dan membentuk busur yang menjulur keluar dari fotosfera.

Foto NASA yang diperoleh 31 Mei 2017 ini menunjukkan beberapa pita plasma terang di Matahari yang terhubung dari satu wilayah aktif ke wilayah aktif lainnya, padahal pada 17-18 Mei 2017 berjarak puluhan ribu mil satu sama lain, namun garis penghubung tersebut adalah terlihat jelas dalam panjang gelombang sinar ultraviolet ekstrim ini. Sebuah misi baru NASA bertujuan untuk mendekati matahari, mendekati panas terik dan radiasi matahari dibandingkan pesawat ruang angkasa mana pun dalam sejarah untuk mengungkap bagaimana bintang terbentuk, kata badan antariksa AS pada 31 Mei 2017. Setelah lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida pada Juli 2018, Parker Solar Probe akan menjadi yang pertama terbang langsung ke atmosfer matahari yang dikenal dengan nama corona.
Foto NASA yang diperoleh 31 Mei 2017 ini menunjukkan beberapa pita plasma terang di Matahari yang terhubung dari satu wilayah aktif ke wilayah aktif lainnya, padahal pada 17-18 Mei 2017 berjarak puluhan ribu mil satu sama lain, namun garis penghubung tersebut adalah terlihat jelas dalam panjang gelombang sinar ultraviolet ekstrim ini. Sebuah misi baru NASA bertujuan untuk mendekati matahari, mendekati panas terik dan radiasi matahari dibandingkan pesawat ruang angkasa mana pun dalam sejarah untuk mengungkap bagaimana bintang terbentuk, kata badan antariksa AS pada 31 Mei 2017. Setelah lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida pada Juli 2018, Parker Solar Probe akan menjadi yang pertama terbang langsung ke atmosfer matahari yang dikenal dengan nama corona. (Handout / NASA / AFP)

Busur tersebut akhirnya memerangkap plasma Matahari, yang pada satu saat busur ini akan putus dan menghasilkan dua fenomena, yang keduanya bisa menjadi penyebab terjadinya badai matahari.

Aktivitas di permukaan Matahari, di antaranya seperti jilatan api (solar flares) atau ledakan massa korona (CME), yang dapat meningkatkan energi yang dibawa oleh angin Matahari dan kecepatannya.

Selain itu, aktivitas Matahari tersebut juga dapat memengaruhi intensitas medan magnet antar planet (IMF).

Kendati magnetosfer atau salah satu lapisan atmosfer Bumi dapat membelokkan sebagian besar aktivitas Matahari yang dibawa oleh angin matahari, namun beberapa partikel yang dilontarkan oleh CME tetap dapat memasuki Bumi.

Partikel-partikel energik ini kemudian yang menyebabkan gangguan magnetik, yang selanjutnya diklasifikasikan sebagai fenomena badai geomagnetik atau sub-badai Matahari.

Baca: Ternyata Benda Ini yang Mirip Kilatan Cahaya di Langit Yogya, Bukan Meteor Seperti Kata Banyak Orang

Badai Matahari yang memancarkan gelombang geomagnetik ini juga dapat menciptakan fenomena langit yang cantik, yakni yang dikenal dengan cahaya aurora di daerah kutub Bumi.

Akan tetapi, fenomena badai Matahari juga dapat sangat merusak dan berbahaya, yakni dapat menyebabkan cuaca antariksa yang merusak, terutama menyebabkan gangguan satelit hingga jaringan internet.

Fenomena badai geomagnetik dan sub-badai Matahari Badai geomagnetik Matahari diklasifikasikan sebagai fenomena 'berulang' dan 'tidak berulang'.

Artinya, badai Matahari yang teradi berulang, terkait dengan rotasi Matahari yang terjadi setiap 27 hari.

Fenomena badai tersebut dipicu oleh pertemuan Bumi dengan interplanetary magnetic field (IMF) ke arah selatan, yakni saat daerah bertekanan tinggi terbentuk oleh interaksi aliran angin matahari berkecepatan rendah dan tinggi yang ikut berotasi dengan Matahari.

Gambar Nebula Trifid yang dirilis Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA pada tanggal 9 November 1999 ini menunjukkan pembibitan bintang yang terkoyak oleh radiasi dari bintang masif di dekatnya. Gambar tersebut juga memberikan gambaran embrio bintang yang terbentuk di dalam awan debu dan gas, yang ditakdirkan untuk dimakan habis oleh silau dari bintang masif tersebut. Aktivitas bintang ini adalah contoh indah tentang bagaimana siklus hidup bintang seperti Matahari kita berhubungan erat dengan saudaranya yang lebih kuat. Gambar Hubble menunjukkan sebagian kecil dari awan debu dan gas padat, tempat pembibitan bintang yang penuh dengan embrio bintang. Awan ini berjarak sekitar 8 tahun cahaya dari bintang pusat nebula, yang berada di luar bagian atas gambar ini. Terletak sekitar 9.000 tahun cahaya dari Bumi, Trifid berada di konstelasi Sagitarius. Sebuah pancaran bintang (benda tipis dan tipis yang mengarah ke kiri atas) menonjol dari kepala awan tebal dan membentang tiga perempat tahun cahaya ke dalam nebula. Sumber jet tersebut adalah objek bintang yang sangat muda yang terkubur di dalam awan. Jet seperti ini adalah gas buangan pembentukan bintang. Radiasi dari bintang masif di pusat nebula membuat gas dalam pancaran cahaya, sama seperti menyebabkan sisa nebula bersinar. Jet di Trifid adalah
Gambar Nebula Trifid yang dirilis Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA pada tanggal 9 November 1999 ini menunjukkan pembibitan bintang yang terkoyak oleh radiasi dari bintang masif di dekatnya. Gambar tersebut juga memberikan gambaran embrio bintang yang terbentuk di dalam awan debu dan gas, yang ditakdirkan untuk dimakan habis oleh silau dari bintang masif tersebut. Aktivitas bintang ini adalah contoh indah tentang bagaimana siklus hidup bintang seperti Matahari kita berhubungan erat dengan saudaranya yang lebih kuat. Gambar Hubble menunjukkan sebagian kecil dari awan debu dan gas padat, tempat pembibitan bintang yang penuh dengan embrio bintang. Awan ini berjarak sekitar 8 tahun cahaya dari bintang pusat nebula, yang berada di luar bagian atas gambar ini. Terletak sekitar 9.000 tahun cahaya dari Bumi, Trifid berada di konstelasi Sagitarius. Sebuah pancaran bintang (benda tipis dan tipis yang mengarah ke kiri atas) menonjol dari kepala awan tebal dan membentang tiga perempat tahun cahaya ke dalam nebula. Sumber jet tersebut adalah objek bintang yang sangat muda yang terkubur di dalam awan. Jet seperti ini adalah gas buangan pembentukan bintang. Radiasi dari bintang masif di pusat nebula membuat gas dalam pancaran cahaya, sama seperti menyebabkan sisa nebula bersinar. Jet di Trifid adalah "ticker tape," menceritakan sejarah salah satu objek bintang muda yang terus tumbuh seiring gravitasinya menarik gas dari sekitarnya. Namun ticker tape ini tidak akan berjalan lebih lama lagi. Dalam 10.000 tahun ke depan, cahaya yang menyilaukan dari pusat bintang masif akan terus mengikis nebula, menguasai bintang yang baru terbentuk, dan mengakhiri pertumbuhannya secara tiba-tiba dan mungkin prematur. (AFP PHOTO/NASA dan Jeff HESTER (ARIZONA STATE UNIVERSITY))

Sementara badai tidak berulang yang paling sering terjadi selama solar minimum atau aktivitas minimum Matahari, yakni fase penurunan siklus matahari.





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved