"Orang ini membutuhkan unit perawatan intensif," tambahnya sambil menunjuk seorang pemuda yang terbaring di lantai sambil dirawat oleh seorang perawat.
"Dan (di sini), kami tidak punya obat," katanya sambil menunjuk ke pasien lain yang kakinya diamputasi.
"Kami menerima orang-orang yang terluka dari Wadi Gaza ke Beit Hanoon. Beberapa di antaranya telah berada di sini selama 10 hari," jelas petugas itu.
Hampir 30.000 warga Palestina telah terluka sejak Israel memulai serangannya ke Gaza pada tanggal 7 Oktober setelah Hamas melakukan serangan mendadak ke Israel selatan/
"Tim medis (di rumah sakit Indonesia) terpaksa mengamputasi beberapa pasien karena organ-organ tubuh mereka membusuk," jelas Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera melaporkan dari Khan Younis.
Tareq menambahkan bahwa rumah sakit tersebut tidak dapat memindahkan pasien yang terluka ke tempat lain.
"Semua rumah sakit di Kota Gaza dan wilayah utara telah berhenti beroperasi," ujar direktur RS Indonesia di Gazza, al-Kahlout.
Rumah Sakit Indonesia, yang terletak di dekat kamp pengungsi Jabalia -yang terbesar di Gaza- juga telah menampung ratusan pengungsi yang mencari perlindungan di sana.
Daerah sekitar rumah sakit tersebut telah diserang beberapa kali oleh pasukan Israel, dengan sedikitnya dua warga sipil tewas dalam serangan tersebut antara tanggal 7 dan 28 Oktober, menurut Human Rights Watch.
Militer Israel menuduh Rumah Sakit Indonesia digunakan "untuk menyembunyikan pusat komando dan kontrol bawah tanah" untuk Hamas.
Para pejabat Palestina dan kelompok Indonesia yang mendanai rumah sakit tersebut telah menolak tuduhan tersebut.
Sementara itu, kekhawatiran semakin meningkat terhadap ribuan warga sipil yang terperangkap di Rumah Sakit al-Shifa, kompleks medis terbesar di Gaza, di tengah serangan Israel yang sedang berlangsung.
Israel mengatakan bahwa rumah sakit tersebut merupakan pusat komando Hamas, sebuah klaim yang dibantah oleh kelompok tersebut.
(TRIBUNNEWSWIKI)