TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pengamat politik Ari Junaedi menduga Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan banyak manuver menjelang Pilpres 2024 karena keinginannya memimpin selama tiga periode ditolak oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Ari mengatakan Jokowi sudah tiga kali kecewa kepada Megawati lantaran keinginannya tidak didukung Megawati.
Menurut Ari, keinginan pertama dan kedua Jokowi berkaitan dengan perpanjangan masa jabatan presiden hingga tiga periode.
Ketika pandemi Covid-19 belum parah di Indonesia, ada sejumlah kepala desa dan pejabat desa pergi ke Gelora Bung Karno guna mengusulkan perpanjangan masa jabatan presiden hingga tiga periode.
Kemudian, ada wacana jabatan presiden diperpanjang hingga tiga periode akibat pandemi Covid-19.
"Ide itu disampaikan kepada Bu Mega, Bu Mega tetap firm (tegas) tidak sepakat karena harus sesuai dengan konstitusi, presiden bisa dipilih sebanyak-banyaknya dua kali. Saya dan berbagai kalangan tetap percaya bahwa Pak Jokowi kecewa dengan dua permintaan yang tidak dituruti," kata Ari dalam program Obrolan Newsroom, dikutip dari Kompas.com, Rabu, (25/10/2023).
Baca: Gibran Jadi Cawapres Prabowo, Mantan Sekjen PDIP Tepis Isu Hubungan Jokowi-Megawati Retak
Baca: Pengamat: Wacana Gibran Jadi Cawapres Muncul karena Wacana Jokowi 3 Periode Gagal
Sementara itu, permintaan ketiga Jokowi ialah agar putra sulungnya sekaligus Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, dijadikan capres atau cawapres. Ari menduga usul itu juga ditolak oleh Megawati.
Namun, kini Gibran berhasil menjadi cawapres setelah diminta oleh Prabowo Subianto dan partai-partai pendukungnya.
"Permintaan-permintaan yang di luar nalar politik, di luar nalar atau akal sehat dari seorang politisi senior, walau Bu Mega tidak pernah menjadi 2 kali presiden," kata Ari yang menjadi Direktur Nusakom Pratama Institute.
Gagalnya wacana tiga periode
Mirip dengan Ari, pengamat politik Yunarto Wijaya menyebut kemunculan wacana Gibran menjadi cawapres Prabowo Subianto berawal dari kegagalan wacana Presiden Jokowi menjabat tiga periode.
Wacana tiga periode itu sempat dilempar ke tengah masyarakat, tetapi gagal atau tidak terwujud karena ditolak masyarakat.
Setelah itu, muncul dukungan Jokowi kepada sejumlah orang dan kemudian berujung kepada putranya sulungnya, Gibran, yang kini menjabat sebagai Wali Kota Surakarta.
"Dimulai dari 3 Periode, perpanjangan periode, ditolak publik, lalu muncul-lah endorsement ke Ganjar, lalu juga ke Prabowo, berujung ke anaknya sendiri.... Ini memang bukan ttg memilih Ganjar atau Prabowo, ini ttg mencari formula agar dirinya tetap berkuasa..." ujar Yunarti di akun Twitter miliknya, @yunartowijaya, Sabtu (21/10/2023).
Baca: PDI-P Disebut Takut, Belum Pecat Gibran Gara-gara Tak Enak Berhadapan dengan Jokowi
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Charta Politika itu menyinggung Jokowi yang terlihat seperti mendukung Prabowo di Pilpres, seolah membohongi orang yang memilihnya saat Pilpres 2014.
"Banyak yang 2014 milih @jokowi karena takut ORBA berkuasa kembali lewat sosok Prabowo... Sekarang jokowinya milih prabowo, dan anaknya dimasukkan Golkar... Paripurna..," kata dia.
Disebut tak mengerti demokrasi
Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan Megawati berusaha menghalangai Jokowi memimpin selama tiga periode karena dia mengerti demokrasi.
"Ibu Megawati mengerti demokrasi. Karena itu, Ibu Megawati selalu menghalangi tiga periode, perpanjangan segala macam itu kan artinya Ibu Mega mengerti demokrasi," kata Rocky dalam video yang diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung Official, (24/10/2023).
Rocky juga menganggap Megawati memahami demokrasi karena dia menghalangi langkah Gibran menjadi cawapres lewat putusan Mahkamah Konstitusi